Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perusahaan Ramai Pakai AI, Waspada Penyampaian Informasi yang Keliru 

Iqbal Dwi Purnama , Jurnalis-Jum'at, 08 Mei 2026 |17:29 WIB
 Perusahaan Ramai Pakai AI, Waspada Penyampaian Informasi yang Keliru 
Perusahaan Ramai Pakai AI, Waspada Penyampaian Informasi yang Keliru (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Ketua Umum Indonesia Corporate Secretary Association (ICSA) Katharine Grace menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam penggunaan artificial intelligence (AI) oleh profesi corporate secretary, khususnya dalam penyampaian informasi kepada publik dan para pemangku kepentingan.

Menurut Katharine, perkembangan teknologi AI memang memberikan banyak manfaat bagi dunia korporasi, seperti pengolahan data, layanan contact center, otomasi proses operasional, hingga mendukung pengambilan keputusan.

Namun di balik itu, Katharine mengatakan terdapat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, salah satunya potensi penyebaran informasi keliru akibat penggunaan AI tanpa pengawasan yang memadai.

"Tanpa pengelolaan yang baik, AI dapat menimbulkan berbagai risiko, seperti penyalahgunaan data, pelanggaran privasi, penyebaran informasi yang keliru, bias dalam pengambilan keputusan, hingga ketergantungan yang berlebihan terhadap teknologi," ujarnya pada perayaan HUT ke-18 ICSA di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (8/5/2026).

Dia mengatakan, risiko-risiko tersebut dapat berdampak serius terhadap perusahaan, baik dari sisi hukum, kepatuhan, maupun reputasi. Karena itu, corporate secretary dinilai harus berperan aktif bersama para stakeholders internal maupun eksternal untuk memastikan adanya batasan dan tata kelola yang jelas dalam pemanfaatan AI.

Dia menegaskan profesi corporate secretary memiliki peran strategis sebagai penghubung komunikasi antara perusahaan dengan investor, regulator, media, dan stakeholders lainnya. Karena itu, akurasi dan validitas informasi yang disampaikan kepada publik harus tetap menjadi prioritas utama meskipun perusahaan mulai memanfaatkan teknologi AI.

"Pada akhirnya, tanggung jawab atas kebenaran dan keakuratan informasi tetap melekat pada kita sebagai pengguna AI," lanjutnya. 

 

Katharine mengingatkan bahwa penggunaan AI tidak boleh membuat perusahaan mengabaikan prinsip akuntabilitas dan tanggung jawab dalam penyampaian informasi. Pemanfaatan AI harus tetap berada dalam kerangka etika profesi, kepatuhan terhadap regulasi, serta kebijakan internal perusahaan guna menjaga keamanan dan keberlangsungan bisnis.

Dia mengatakan integrasi AI dalam operasional bisnis memang menjadi sesuatu yang tidak terelakkan di tengah percepatan transformasi digital. Namun perusahaan tetap harus memastikan adanya batasan dan pengawasan yang jelas dalam penggunaannya.

"Ruang pertumbuhan AI masih sangat luas. Integrasi AI yang optimal dapat meningkatkan efisiensi operasional, meningkatkan akurasi data, meminimalkan human error, serta mendukung pengembangan produk dan inovasi layanan agar semakin tepat sasaran dan produktif," pungkasnya. 
 

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement