Salah satu poin utama dalam paket stimulus ini adalah pemberian insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Pemerintah akan memberikan subsidi yang nilainya dibedakan berdasarkan jenis baterai, di mana kendaraan dengan baterai berbasis nikel akan mendapatkan alokasi subsidi lebih besar guna mendukung hilirisasi nikel domestik.
Target kuota awal yang disiapkan adalah 100.000 unit untuk mobil listrik dan 100.000 unit untuk motor listrik, dengan fleksibilitas penambahan jika serapan pasar tinggi.
Program ini direncanakan mulai berjalan pada Juni 2026 dengan tujuan ganda: menekan konsumsi BBM serta mempercepat transisi energi.
“Langkah pertama ya 100.000 mobil, 100.000 motor. Kalau habis, bisa kita tambah lagi,” kata Purbaya.
Selain sektor otomotif, pemerintah melalui LPEI (Indonesia Eximbank) akan meluncurkan program pembiayaan dengan bunga rendah bagi perusahaan eksportir. Fokus utama akan diberikan pada perusahaan yang membutuhkan peremajaan mesin produksi, terutama di sektor tekstil, dengan potensi bunga kredit ditekan hingga kisaran 6 persen atau bahkan lebih rendah.
“Kita ingin industri bisa dapat akses pembiayaan lebih murah supaya bisa ekspansi dan meningkatkan daya saing,” ungkap Purbaya.
Purbaya menegaskan bahwa secara keseluruhan, kondisi ekonomi nasional tetap tangguh meskipun terdapat dinamika di beberapa sektor industri tertentu.
“Kita pastikan likuiditas cukup sehingga dunia usaha bisa bergerak. Pebisnis juga tidak perlu terlalu khawatir, ekonomi kita masih akan terus membaik,” pungkasnya.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.