JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda merosot 84 poin atau minus 0,48% ke Rp17.614 per dolar AS.
Hingga pukul 09.47 WIB, rupiah masih bergerak melemah 0,34% ke Rp17.589 per dolar AS. Pelemahan ini sejalan dengan kondisi mayoritas mata uang di kawasan Asia dan negara maju yang kompak memerah terhadap dolar AS.
Di Asia, won Korea Selatan memimpin pelemahan sebesar 0,50 persen, diikuti ringgit Malaysia 0,39 persen dan baht Thailand 0,28 persen.
Kondisi serupa terjadi pada mata uang global seperti dolar Australia yang turun 0,47 persen serta poundsterling Inggris sebesar 0,28 persen.
Adapun koreksi rupiah pagi ini dipicu oleh penguatan indeks dolar AS di tengah penantian pasar terhadap hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Meski ada optimisme, pelaku pasar cenderung bersikap waspada karena belum ada pernyataan resmi terkait hasil pembicaraan kedua pemimpin tersebut.
Selain faktor pertemuan AS-China, ketegangan di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti rapuhnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran pasar global.
“Teheran juga menekankan kedaulatan atas Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Berdasarkan dinamika eksternal tersebut, rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada sesi perdagangan hari ini. Ibrahim memperkirakan posisi penutupan akan berada pada rentang harga yang cukup lebar.
Ibrahim memprediksi bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.520–Rp17.580 per dolar AS.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.