“Transformasi struktural sejauh ini belum terlihat nyata. Jika tidak segera diarahkan, Indonesia berisiko terjebak dalam middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah,” katanya.
Deni menyebut pendorong utama pertumbuhan ekonomi berasal dari lonjakan konsumsi pemerintah yang mencapai 21,81 persen. Namun, efisiensi investasi masih rendah, tercermin dari tingginya ICOR (Incremental Capital Output Ratio).
“Infrastruktur memang dibangun, tetapi output yang dihasilkan relatif kecil dibandingkan input. Artinya, belanja fiskal belum menghasilkan produktivitas jangka panjang,” jelasnya.
Karena itu, ia merekomendasikan agar sebagian belanja fiskal dialihkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, seperti program nutrisi, pendidikan, dan vokasi agar menghasilkan tenaga kerja produktif dan berdaya saing.
Selain itu, ia menyoroti sektor akomodasi dan makanan minuman yang tumbuh 13,14 persen akibat rebound pariwisata dan konsumsi domestik. Namun, sektor tersebut dinilai memiliki nilai tambah rendah dan rentan terhadap guncangan eksternal.