Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Diproyeksi Masih Betah di Level Rp17.000

Anggie Ariesta , Jurnalis-Minggu, 24 Mei 2026 |14:18 WIB
Rupiah Diproyeksi Masih Betah di Level Rp17.000
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA  - Nilai tukar Rupiah diproyeksikan masih akan tertahan di kisaran level Rp17.000 per Dolar Amerika Serikat (AS) dalam jangka pendek. Ketidakpastian sentimen, baik yang bersumber dari dinamika global maupun gejolak domestik, disinyalir menjadi faktor penahan apresiasi mata uang Garuda untuk kembali ke level normalnya.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mengatakan bahwa dalam situasi pasar yang penuh tekanan seperti saat ini, otoritas moneter dan pemerintah perlu bekerja ekstra keras demi menjaga psikologis pasar. Ia berharap pergerakan kurs setidaknya dapat ditekan agar tidak melampaui ambang batas psikologis baru di level Rp17.500.

"Kalau melihat kondisi seperti saat ini, kami melihat bahwa rupiah masih di level Rp17.000-an, hopefully masih di bawah Rp17.500 per dolar AS. Harapannya kembali lagi ini tidak sampai ekspektasi liar itu terjadi," ungkap Josua dalam acara pelatihan wartawan di Makassar, dikutip Minggu (24/5/2026).

Padahal, jika mengacu pada indikator fundamental, posisi nilai tukar riil efektif Indonesia saat ini berada di atas kapasitas yang sebenarnya. Dalam kondisi sirkulasi ekonomi yang normal tanpa guncangan berat, posisi Rupiah secara teoretis sangat mampu bertengger kokoh di bawah level Rp17.000 per Dolar AS.

"Kalau kita melihat secara teori, tadi nilai tukar rill efektifnya (real effective exchange rate) rupiah dalam kondisi normal itu mestinya kita di bawah Rp17.000 per dolar AS. Tapi kan kita sebagai ekonom, sebagai analis, kan kita mempertimbangkan ya risiko-risiko global, risiko-risiko yang ada saat ini, dan juga respon kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh Bank Indonesia," jelas Josua.

 

Di tengah sensitifnya pergerakan kurs, Josua menyayangkan maraknya opini dari para influencer atau pembuat konten di media sosial yang kurang memahami anatomi makroekonomi namun ikut berkomentar panjang lebar mengenai kejatuhan Rupiah. 

Narasi yang keliru di ruang digital dikhawatirkan dapat memicu kepanikan publik atau fenomena FOMO (Fear of Missing Out) yang mendorong masyarakat awam ikut-ikutan berburu Dolar AS.

Selain menyoroti faktor psikologis massa, Josua menggarisbawahi bahwa instrumen kebijakan moneter milik Bank Indonesia tidak akan mampu bekerja secara optimal jika dibiarkan berjalan sendirian di pasar tanpa topangan sektor fiskal maupun sektor riil.

"Kebijakan BI ini tidak bisa berdiri sendiri ya, ini perlu harus ditopang juga oleh kebijakan-kebijakan lainnya, makanya harus ada koordinasi kebijakan, sinergi kebijakan. Sebenarnya sinergi kebijakan ini kata kunci yang sangat direspon positif oleh rating agency dan juga investor asing sebelum-sebelumnya. Dan ini harusnya diperkuat lagi saat ini oleh pemerintah dan juga otoritas di sektor keuangan," ungkapnya.

Kendati demikian, Josua memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah taktis Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berani mengambil keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) hingga bertengger di level 5,25 persen pada pertengahan Mei 2026 ini.

Langkah pengetatan moneter tersebut dinilai sebagai sinyal kuat kepada komunitas keuangan global bahwa bank sentral berkomitmen penuh mengendalikan inflasi dan menjaga daya tarik investasi di dalam negeri (risk premium).

"Saya tidak bisa membayangkan kalau kemarin BI tidak menaikkan suku bunga... Hal yang ditunggu oleh pasar dan juga khususnya oleh investor adalah respons kebijakan yang bisa memperbaiki ekspektasi dan juga dari sisi risk premiumnya Indonesia, khususnya bagaimana supaya ekspektasi investor ini bisa membaik ke depannya, terutama dari sisi kebijakan-kebijakan," tuturnya.

Efektivitas dari penaikan suku bunga acuan tersebut sejatinya sempat langsung dirasakan di lantai bursa sesaat setelah keputusan resmi diumumkan kepada publik. Namun, derasnya arus ketidakpastian global membuat volatilitas kembali membayangi pergerakan harian mata uang nasional.

"Kalau kita lihat secara intermediate, dampak dari kenaikan BI-Rate jelas sekali. Pada saat kemarin jam pengumuman (hasil RDG BI) itu jam 14.00 WIB, itu langsung responnya rupiah menguat, meskipun memang hari ini melemah lagi," pungkas Josua.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement