Meski demikian, Tjatur menegaskan perusahaan berupaya agar kenaikan biaya produksi tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga produk.
"Tetapi kami berkomitmen bahwa itu kita tidak akan pass on 100 persen kepada konsumen. Jadi kita masih melihat bahwa masyarakat perlu ada daya beli yang masih bisa, masih terjangkau oleh masyarakat," ungkap Tjatur.
Untuk menekan dampak kenaikan biaya akibat pelemahan rupiah, perusahaan melakukan berbagai langkah efisiensi di lini produksi. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga harga produk tetap terjangkau di tengah tekanan biaya bahan baku yang meningkat.
"Dengan kondisi seperti itu, kami melakukan program-program efisiensi di pabrik-pabrik kami. Sehingga biayanya juga bisa ditekan. Sehingga pengaruh dari inflasi dolar ini tidak 100 persen kita pass on ke konsumen," pungkas Tjatur.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tekanan pada pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda dibuka melemah ke level Rp17.885 per dolar AS atau turun sekitar 80,5 poin dibandingkan posisi sebelumnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.