JAKARTA – Realisasi investasi hilirisasi pada kuartal I-2026 mencapai Rp147,5 triliun, dengan sektor nikel menjadi kontributor utama sekitar Rp41,5 triliun. Namun demikian, keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari besaran investasi dan kapasitas produksi, tetapi juga dari pemenuhan standar keberlanjutan yang kini menjadi syarat penting dalam akses pasar global.
Hal tersebut menjadi latar pembahasan dalam sejumlah agenda terkait pengembangan industri mineral kritis di Indonesia, khususnya yang menyoroti praktik hilirisasi nikel berkelanjutan di Maluku Utara.
Dampak hilirisasi tercermin dari peningkatan signifikan nilai ekspor produk turunan nikel yang naik dari USD3,3 miliar pada 2018 menjadi sekitar USD34 miliar pada 2024. Kenaikan tersebut menunjukkan meningkatnya nilai tambah yang dihasilkan di dalam negeri.
Ketua ESDM Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia Ovan Tito menilai perkembangan ekosistem hilirisasi nikel di Maluku Utara dapat menjadi referensi global bagi praktik responsible downstreaming.
“Setelah melihat langsung operasional di lapangan, investasi lingkungan yang dilakukan, serta keterbukaan berbagai pihak dalam berdialog, kami melihat ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia dan terus berupaya meningkatkan standar keberlanjutannya,” ujar Ovan, Kamis (4/6/2026).
Dengan kontribusi sekitar 13–15 persen terhadap pasokan nikel dunia, Maluku Utara kini menjadi salah satu kawasan strategis dalam rantai pasok mineral kritis global. Pada kuartal I-2026, ekonomi Maluku Utara tumbuh 19,64 persen, tertinggi di Indonesia, ditopang oleh sektor pengolahan dan pertambangan. Komoditas berbasis besi baja, nikel, dan bahan kimia anorganik menyumbang 96,65 persen dari total ekspor daerah.
Sementara itu, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak hanya dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan masuknya investasi. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat lokal memiliki peran lebih besar dalam rantai nilai industri.
Ia menyebut pemerintah daerah tengah memperkuat pendidikan dan pelatihan vokasi agar masyarakat dapat terserap dalam industri.
“Kami sedang memperkuat pendidikan dan keterampilan masyarakat agar lebih banyak warga Maluku Utara dapat mengambil peran dalam industri. Kami juga mendorong pengembangan pendidikan vokasi dan politeknik yang relevan dengan kebutuhan sektor industri,” ujar Sherly.
Sementara itu, Executive Director NiPERA NiPERA Chris Schlekat menilai pasar global akan semakin menuntut pembuktian praktik keberlanjutan dalam industri nikel. Ia menyebut penggunaan standar internasional yang kredibel menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing.
“Ke depan, akses pasar global akan semakin ditentukan oleh kemampuan produsen menunjukkan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola yang dapat diverifikasi,” kata Chris.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.