Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Babak Baru Hilirisasi Nikel, Ketika Baterai Bekas Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik RI

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Kamis, 09 Juli 2026 |21:12 WIB
Babak Baru Hilirisasi Nikel, Ketika Baterai Bekas Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik RI
Babak Baru Hilirisasi Nikel, Ketika Baterai Bekas Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik RI (Foto: Kementerian ESDM)
A
A
A

JAKARTA - Suatu hari nanti, jutaan kendaraan listrik akan memenuhi jalan-jalan Indonesia. Sebagian baterainya akan kehilangan daya, berhenti bekerja, lalu diganti dengan yang baru.

Pertanyaannya bukan apakah baterai itu akan habis.Pertanyaannya adalah: ke mana baterai itu pergi setelah selesai menjalankan tugasnya?

Selama ini, keberhasilan hilirisasi nikel sering diukur dari berdirinya smelter, besarnya investasi, atau meningkatnya ekspor produk olahan. Padahal, ukuran keberhasilan yang sesungguhnya justru baru dimulai ketika baterai kendaraan listrik mencapai akhir masa pakainya.

Apabila baterai bekas berakhir sebagai limbah, maka rantai nilai industri berhenti. Namun apabila baterai itu kembali menjadi bahan baku bagi baterai generasi berikutnya, maka hilirisasi telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: ekonomi sirkular.

Di sinilah Indonesia sedang memasuki babak baru. Sebagai negara yang memiliki lebih dari 40 persen cadangan nikel dunia, Indonesia tidak lagi hanya membangun industri pengolahan mineral. 

Melalui proyek ekosistem baterai terintegrasi Konsorsium  PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan Konsorsium CATL, Brunp, Lygend (CBL), Indonesia sedang menyusun rantai industri kendaraan listrik dari hulu hingga hilir, mulai dari tambang, pemurnian, produksi material baterai, manufaktur sel, hingga kelak berakhir pada fasilitas daur ulang.

Pembangunan pabrik baterai di Karawang bukan sekadar menghadirkan fasilitas manufaktur baru. Ia menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap sumber daya alam. Nikel tidak lagi dijual sebagai batuan, melainkan diolah menjadi teknologi yang menggerakkan masa depan.

“Kunci daripada pembangunan suatu bangsa adalah memang kemampuan bangsa itu mengolah sumber alam menjadi bahan yang bermanfaat dan punya nilai tambah yang tinggi, sehingga bisa mendorong kemakmuran dan kesejahteraan,” kata Presiden Prabowo Subianto.

Percepatan pembentukan ekosistem tersebut diwujudkan melalui IBC yang mengintegrasikan kekuatan Grup MIND ID, Pertamina, dan PLN. 

Antam menjadi penopang pasokan nikel di sisi hulu, sementara pembangunan fasilitas CAM di Halmahera dan pabrik sel baterai CATIB di Karawang memperkuat sektor midstream dan downstream. 

Di sisi lain, PT Bukit Asam mulai mengembangkan artificial graphite sebagai material anoda baterai, sehingga Indonesia berpeluang menguasai dua komponen utama baterai nickel-mangan-cobalt (NMC) yaitu katoda berbasis nikel dan anoda berbasis graphite.

"MIND ID berkomitmen memastikan agenda hilirisasi nasional tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata dan terukur bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung ketahanan energi, transisi energi terbarukan, serta pembangunan industri masa depan Indonesia,” tambah Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin.

Nilai tambah sesungguhnya muncul ketika material di dalam baterai mampu hidup kembali. Tantangannya tidak ringan.

Dunia bergerak sangat cepat. Selain baterai NMC yang menjadi kekuatan Indonesia, baterai seperti Lithium Iron Phosphate (LFP) hingga Lithium Manganese Iron Phosphate (LMFP) juga hadir.

Harga baterai NMC memang lebih tinggi dibandingkan LFP, namun kemampuan menyimpan energi yang lebih besar membuat biaya operasional per kilometer kendaraan berperforma tinggi menjadi lebih kompetitif. 

Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi peluang besar karena nikel merupakan material utama yang memberikan nilai tambah pada baterai NMC, sementara bahan baku utama LFP seperti litium dan fosfat masih bergantung pada impor.

Potensi tersebut semakin relevan dengan pesatnya pertumbuhan pasar kendaraan listrik nasional. Penjualan mobil listrik meningkat dari hanya 272 unit pada 2021 menjadi lebih dari 114 ribu unit pada 2025, sementara penjualan sepeda motor listrik juga terus bertumbuh. 

Persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki cadangan mineral terbesar, tetapi oleh siapa yang paling cepat beradaptasi. Karena itu, hilirisasi tidak boleh dipahami sebagai pembangunan industri untuk satu teknologi tertentu. Yang harus dibangun adalah kemampuan untuk terus berinovasi.

Riset, manufaktur komponen, perangkat lunak kendaraan listrik, sistem manajemen baterai, serta pengembangan sumber daya manusia menjadi sama pentingnya dengan pembangunan smelter. Ketika teknologi berubah, industri nasional harus tetap mampu bergerak mengikuti arah perubahan.

Namun, di tengah cepatnya inovasi tersebut, terdapat satu peluang yang justru semakin besar: daur ulang baterai.

Baterai kendaraan listrik tidak benar-benar mati ketika masa pakainya selesai. Di dalamnya masih tersimpan nikel, kobalt, dan litium yang dapat dipulihkan melalui proses recycling untuk kembali menjadi bahan baku baterai baru.

Artinya, akhir dari sebuah baterai sebenarnya adalah awal dari baterai berikutnya.

IBC menargetkan memasuki industri daur ulang mulai 2030. Langkah ini bukan sekadar membangun pabrik baru, melainkan membangun siklus ekonomi yang menjaga mineral strategis tetap berada di dalam negeri selama mungkin.

Setiap baterai yang berhasil didaur ulang berarti lebih sedikit tambang baru yang harus dibuka, lebih rendah emisi karbon yang dihasilkan, serta lebih besar nilai tambah yang dinikmati industri nasional.

Di masa depan, keunggulan suatu negara tidak lagi diukur dari banyaknya sumber daya yang dimiliki, tetapi dari kemampuannya mempertahankan sumber daya tersebut tetap berputar dalam rantai industrinya sendiri.

Indonesia memiliki hampir seluruh prasyarat untuk memenangkan persaingan itu: cadangan nikel terbesar di dunia, investasi industri yang terus tumbuh, pasar kendaraan listrik yang berkembang, serta kebijakan hilirisasi yang konsisten.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement