Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Babak Baru Hilirisasi Nikel, Ketika Baterai Bekas Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik RI

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Kamis, 09 Juli 2026 |21:12 WIB
Babak Baru Hilirisasi Nikel, Ketika Baterai Bekas Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik RI
Babak Baru Hilirisasi Nikel, Ketika Baterai Bekas Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik RI (Foto: Kementerian ESDM)
A
A
A

Peran IBC di Hilirisasi Nikel

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menjelaskan bahwa baterai kendaraan listrik umumnya masih memiliki performa di atas 85 persen setelah tujuh tahun penggunaan. Setelah itu, baterai tidak langsung menjadi limbah. 

Sebaliknya, baterai tersebut masih menyimpan material strategis seperti nikel, kobalt, dan litium yang dapat dipulihkan melalui proses daur ulang. Inilah yang membuat baterai NMC memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi dibandingkan LFP.

"Jadi, kami fokusnya pada recycling NMC. Kalau ternyata ketersediaan bahan bakunya belum mencukupi untuk butuh masuk ke nilai ekonomi, ya kami belum bisa jalan," ujar Aditya.

Jika baterai LFP sebagian besar hanya dapat mengambil kembali unsur litium, baterai NMC memungkinkan pemulihan beberapa mineral kritis sekaligus. Artinya, satu baterai bekas masih menyimpan sumber daya bernilai tinggi yang dapat digunakan kembali sebagai bahan baku industri baterai generasi berikutnya.

Keunggulan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga lingkungan. Melalui proses recycling, kebutuhan penambangan baru dapat dikurangi karena sebagian material berasal dari baterai bekas. 

Penggunaan kembali nikel dan kobalt mampu menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mengurangi jejak karbon industri baterai. Dengan demikian, setiap baterai yang didaur ulang tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi baru, tetapi juga mengurangi tekanan terhadap eksploitasi sumber daya alam.

Di tengah dominasi baterai LFP di pasar global, Indonesia justru memiliki peluang memperkuat posisi baterai berbasis nikel.

Portofolio Management Department Head IBC Marvin Reinhart, menambahkan, Indonesiai masih memiliki peluang besar untuk mengembangkan hilirisasi baterai berbasis nikel atau NMC.

Meski LFP diperkirakan tetap mendominasi pasar, baterai berbasis nikel diproyeksikan masih menguasai sekitar 35 persen pangsa pasar dunia dalam dekade mendatang. Pangsa tersebut merupakan pasar bernilai tinggi yang membutuhkan material nikel berkualitas tinggi, keunggulan yang dimiliki Indonesia.

Lebih penting lagi, Indonesia memiliki sekitar 40 persen sumber daya utama penyusun baterai kendaraan listrik, mulai dari nikel, kobalt, karbon, hingga aluminium. Kondisi ini menjadikan Indonesia bukan hanya sebagai pemasok mineral, tetapi juga calon pemain utama dalam rantai pasok industri baterai global.

Namun, peluang sebesar itu hanya dapat diwujudkan apabila hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan smelter atau pabrik baterai.

Indonesia perlu membangun sistem pengumpulan baterai bekas melalui mekanisme Extended Producer Responsibility (EPR), mempercepat investasi fasilitas recycling, memperkuat standar keselamatan pengelolaan limbah baterai, serta mengembangkan teknologi pemulihan mineral strategis.

Langkah tersebut akan menciptakan rantai pasok yang berputar dalam satu ekosistem nasional. Nikel yang ditambang hari ini dapat menjadi baterai kendaraan listrik, kemudian didaur ulang, dan kembali menjadi bahan baku baterai baru. Siklus inilah yang menjadi fondasi ekonomi sirkular sekaligus ketahanan industri kendaraan listrik Indonesia.

Ke depan, persaingan industri kendaraan listrik tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki tambang terbesar, melainkan siapa yang mampu menjaga material strategis tetap berada dalam rantai nilai nasional selama mungkin.

Indonesia memiliki semua prasyarat untuk memenangkan persaingan tersebut: sumber daya alam, kebijakan hilirisasi, investasi industri, pasar domestik yang terus tumbuh, hingga peluang menjadi pusat daur ulang baterai di kawasan.

Pada akhirnya, keberlanjutan hilirisasi bukan hanya tentang menghasilkan nilai tambah dari nikel. Keberlanjutan berarti memastikan bahwa nikel Indonesia tidak pernah benar-benar menjadi limbah. 

Ia terus berputar, memberi energi bagi kendaraan, menggerakkan industri, menciptakan lapangan kerja, mengurangi emisi karbon, dan memperkuat ketahanan ekosistem kendaraan listrik nasional dari generasi ke generasi.

Di situlah makna sesungguhnya hilirisasi yang berkelanjutan: ketika satu mineral mampu menghadirkan manfaat ekonomi, lingkungan, dan teknologi dalam satu siklus yang tidak pernah terputus.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement