JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dipengaruhi persepsi negatif dari berbagai pihak terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Padahal, sebagian persepsi negatif terhadap data ekonomi Indonesia tidak sepenuhnya benar.
Namun, masyarakat justru sudah terbawa arus oleh persepsi tersebut sehingga menimbulkan kekhawatiran dan menghambat keputusan investasi.
“Tapi ketika persepsi dibilang kita mau hancur, segala macam, sebagian orang terpengaruh. Itu yang akan kita hilangkan dengan kerja sama yang lebih erat dengan Bank Sentral,” ujar Purbaya saat ditemui di Kompleks DPR RI, Sabtu (6/6/2026).
Menkeu Purbaya menilai hingga saat ini aktivitas ekonomi masyarakat masih berjalan normal. Meski di satu sisi nilai tukar rupiah mengalami pelemahan, hal tersebut sedikit banyak membentuk penyesuaian harga di pasar.
“Kendala utama adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita yang tidak terlalu benar. Karena APBN kita bagus, ekonomi tumbuh cukup baik. Sampai sekarang kalau kita ke mana-mana, aktivitas ekonomi meningkat,” lanjut Purbaya.
Sebagai informasi, kinerja pasar saham Indonesia tercatat sebagai yang terlemah di kawasan ASEAN sepanjang pekan perdagangan 2–5 Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 8,69 persen secara mingguan ke level 5.594,77, menjadikannya indeks dengan pelemahan paling tajam dibandingkan bursa utama negara-negara ASEAN lainnya.
Berdasarkan data yang dirilis Bursa Efek Indonesia, mayoritas bursa ASEAN masih mencatat penguatan. Indeks saham Filipina (PSEi) mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,94 persen, disusul Thailand 0,91 persen, Malaysia 0,62 persen, dan Singapura 0,24 persen. Hanya Vietnam yang ikut terkoreksi, namun penurunannya jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia, yakni 1,71 persen.
Tidak hanya di ASEAN, kinerja IHSG juga menjadi salah satu yang paling lemah di kawasan Asia Pasifik. Koreksi mingguan IHSG melampaui pelemahan indeks Korea Selatan (KOSPI) yang turun 3,72 persen, Australia 1,22 persen, Hong Kong 0,88 persen, India 0,73 persen, dan China 1,00 persen.
Seiring anjloknya indeks, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia juga menyusut signifikan. Nilai kapitalisasi pasar turun dari Rp10.729 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp9.807 triliun, atau berkurang sekitar Rp922 triliun.
Dari sisi investor, aksi jual investor asing masih mendominasi pasar. Sepanjang pekan ini, investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp7,39 triliun. Meski lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai Rp12,34 triliun, arus keluar dana asing tetap menjadi faktor utama yang membebani pergerakan IHSG.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.