JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo datang ke Gedung DPR RI, Jakarta, pagi ini. Kedatangan orang nomor satu bank sentral tersebut untuk menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.
Perry mengatakan kenaikan suku bunga di negara maju telah memicu arus keluar modal dari pasar domestik, baik dari pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kondisi ini membuat instrumen keuangan di luar negeri lebih menarik dibandingkan Indonesia, sehingga menyebabkan arus keluar modal asing. Hal tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang melemah ke level Rp18.000 per dolar AS.
"Dengan kenaikan bunga luar negeri, memang itu ada outflow. Ada saham dan SBN, dan juga SRBI," ujarnya dalam konferensi pers di Kompleks DPR RI, Sabtu (6/6/2026).
Perry mengatakan saat ini pihaknya telah berkoordinasi dengan otoritas fiskal, dalam hal ini Kementerian Keuangan, untuk meningkatkan daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik. Ia berharap langkah tersebut dapat mendorong arus modal asing kembali masuk dan memperkuat rupiah.
"Berkaitan dengan penguatan koordinasi moneter-fiskal untuk memperkuat stabilitas nilai tukar, pertama meningkatkan daya tarik atau imbal hasil supaya portfolio inflow kembali masuk," tambahnya.
Selain itu, Bank Indonesia juga akan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di BI. Dalam skema tersebut, BI akan memberikan remunerasi atau bunga atas penempatan dana pemerintah tersebut.
Menurut Perry, kebijakan ini memungkinkan operasi moneter tetap berjalan efektif dalam mendukung stabilitas rupiah, sementara pada saat yang sama pemerintah dapat menjalankan kebijakan fiskal secara optimal.
"Operasi moneter tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskalnya juga mendukung," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan bahwa stabilitas nilai tukar tidak hanya penting bagi pasar keuangan, tetapi juga berdampak langsung terhadap masyarakat, terutama pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Menurut dia, penguatan dan stabilitas rupiah dapat membantu menekan biaya produksi, termasuk bagi pelaku usaha kecil seperti pedagang tahu dan tempe, yang selama ini terdampak kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan kurs.
"Kita ingin melihat dampak ke masyarakat yang positif dari rupiah yang lebih stabil, sehingga para pedagang tahu tempe dan ibu-ibu rumah tangga bisa merasakan harga yang lebih baik dan tidak terbebani kenaikan biaya hidup yang terlalu signifikan," pungkasnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.