Menanggapi isu yang menyebut sekitar 55 ribu pekerja terancam PHK akibat kenaikan harga gas, Said membantah informasi tersebut.
"Jadi, tidak benar kalau disebut 55 ribu karyawan akan kena PHK. Kalau ada perusahaan granit yang melakukan PHK, jumlahnya ratusan orang dan itu terjadi akibat dampak perang serta kenaikan harga BBM yang tinggi," tegasnya.
Ia memastikan pemerintah bersama serikat pekerja akan terus melakukan berbagai langkah mitigasi agar PHK dapat ditekan semaksimal mungkin.
"Kalau bisa PHK tidak terjadi, itu yang kami perjuangkan. Kalaupun terjadi PHK, maka hak-hak pekerja harus dibayarkan," katanya.
Sementara itu, kajian ReforMiner Institute menyebut daya saing industri nasional dipengaruhi banyak faktor dan tidak hanya ditentukan oleh harga gas. Faktor-faktor tersebut meliputi strategi industri, permintaan pasar, ketersediaan bahan baku, produktivitas, efisiensi, nilai tukar, teknologi, logistik, hingga akses pasar.
"Harga gas adalah salah satu komponen dalam cost competitiveness, tetapi bukan satu-satunya penentu daya saing," ujar Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip ReforMiner, porsi biaya energi termasuk gas, listrik, dan pelumas hanya sekitar 6,35 persen dari total biaya input industri. Sebaliknya, biaya bahan baku dan bahan penolong mencapai 64,60 hingga 96,76 persen, tergantung jenis industrinya.
"Artinya, jika persoalan bahan baku, permintaan pasar, kurs, produktivitas, teknologi, dan strategi industri tidak ikut dibenahi, maka tekanan terhadap daya saing akan tetap muncul meskipun beban energi telah dimitigasi," jelas Komaidi.
Meski begitu, ia mengakui harga gas tetap menjadi komponen strategis, terutama bagi industri yang sangat bergantung pada pasokan gas. Namun, menurutnya, menjadikan harga gas sebagai satu-satunya penyebab tekanan terhadap industri justru berisiko mengabaikan solusi yang lebih komprehensif.
Di sisi lain, Kepala Pusat Energi dan Pangan INDEF, Abra Talattov, menilai kenaikan harga LNG non-subsidi yang dirasakan sebagian pelanggan industri perlu dipahami secara proporsional. Menurutnya, kenaikan tersebut tidak terlepas dari gejolak geopolitik global yang mendorong lonjakan harga energi dunia.
"Kenaikan harga LNG di tingkat konsumen industri tidak terjadi dalam ruang kosong. Ada tekanan besar dari pasar energi global akibat krisis geopolitik sehingga biaya perolehan LNG di sisi hulu juga meningkat. Karena itu, isu ini perlu dilihat secara utuh dari hulu hingga hilir, bukan hanya dari sisi harga akhir yang diterima industri," ujarnya.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.