Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Defisit APBN dan Utang Negara Tetap Aman, Purbaya: Ekonomi Terus Membaik

Anggie Ariesta , Jurnalis-Jum'at, 03 Juli 2026 |10:05 WIB
Defisit APBN dan Utang Negara Tetap Aman, Purbaya: Ekonomi Terus Membaik
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi fundamental perekonomian Indonesia masih berada dalam posisi yang kokoh. (Foto: Okezone.com)
A
A
A

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi fundamental perekonomian Indonesia masih berada dalam posisi yang kokoh dan jauh dari ancaman krisis hingga saat ini. Pemerintah juga berkomitmen menjaga stabilitas domestik melalui pengelolaan instrumen fiskal yang pruden, memacu pertumbuhan, serta meningkatkan efektivitas berbagai program prioritas nasional.

"Perekonomian kita terus bergerak membaik. Memang masih ada tantangan, namun Indonesia tidak sedang menuju krisis. Fundamental ekonomi kita tetap kuat dan akan terus diperbaiki," ujar Purbaya, Jumat (3/7/2026).

Purbaya memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi makro merupakan cerminan akumulasi geliat aktivitas ekonomi di tingkat akar rumput.

Atas dasar itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus mengeluarkan bauran kebijakan yang mampu memberikan stimulus pada sektor riil agar dampak positifnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pemerintah juga memastikan laju inflasi tetap berada dalam koridor yang aman. Adapun dinamika pelemahan nilai tukar rupiah dinilai lebih dipicu oleh faktor sentimen pasar global, bukan karena adanya pergeseran negatif pada fundamental ekonomi domestik.

Untuk memitigasi risiko tersebut, koordinasi di dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat.

Dalam kesempatan tersebut, Purbaya juga menjamin postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih dalam kondisi sangat sehat.

Batas defisit APBN berhasil dijaga agar tidak melewati ambang batas psikologis maksimal 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Di sisi lain, rasio utang pemerintah diklaim masih jauh lebih aman jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

"Tahun lalu defisit APBN berada di kisaran 2,81 persen dari PDB dan tahun ini diperkirakan tetap di bawah 3 persen. Rasio utang pemerintah juga masih sekitar 40 persen terhadap PDB sehingga masih berada dalam kategori pruden," jelas Purbaya.

Menyinggung pelaksanaan berbagai program strategis baru, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga optimalisasi Koperasi Merah Putih, Purbaya menyatakan proses evaluasi berkala terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan ketepatan sasaran di lapangan.

Pemerintah secara terbuka mengakui adanya tantangan pada fase awal penyerapan anggaran. Karena itu, langkah efisiensi dan penguatan pengawasan internal terus ditempuh agar akuntabilitas tetap terjaga.

"Pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai kekurangan yang ada. Yang terpenting adalah setiap kelemahan segera diperbaiki dan pengawasannya diperkuat," tegasnya.

Purbaya menambahkan, dalam setiap rapat kabinet, Kementerian Keuangan selalu menyampaikan analisis risiko fiskal serta proyeksi dampak anggaran secara komprehensif sebagai bahan pertimbangan bagi Presiden sebelum mengambil keputusan.

Pada sektor internal, Purbaya memastikan reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Keuangan akan terus dipacu, khususnya dalam pemberantasan praktik penyelewengan di Direktorat Jenderal Pajak serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Tindakan tegas tanpa kompromi akan diberikan kepada aparatur negara yang terbukti melanggar hukum. Langkah pembenahan ini dilakukan melalui rotasi pegawai secara berkala hingga penindakan hukum secara transparan.

"Penyelewengan pasti ada risikonya di setiap organisasi. Yang terpenting adalah mengendalikannya, menindak pelakunya, dan terus memperbaiki sistem agar semakin bersih," pungkas Purbaya.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement