JAKARTA – Investor disarankan menerapkan strategi selective buying pada perdagangan awal pekan ini, di tengah potensi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih cenderung menguat, tetapi dibayangi aksi ambil untung jangka pendek.
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana, mengatakan investor sebaiknya fokus pada saham-saham yang masih memiliki momentum teknikal positif dibandingkan mengejar kenaikan indeks secara keseluruhan.
Menurut dia, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) layak dicermati dengan rekomendasi speculative buy dan target harga Rp1.945 seiring mulai munculnya sinyal akumulasi.
Selain itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga dinilai menarik untuk speculative buy dengan target harga Rp2.900, didukung prospek sektor logam yang mulai membaik.
Sementara itu, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) direkomendasikan untuk trading buy dengan target harga Rp600 karena masih berpotensi memperoleh sentimen positif dari industri nikel dan kendaraan listrik.
Adapun PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dinilai layak masuk radar speculative buy dengan target harga Rp250 setelah menunjukkan indikasi rebound dari fase konsolidasinya.
"BRIS layak dicermati dengan rekomendasi speculative buy dan target harga 1.945, seiring mulai munculnya sinyal akumulasi. MDKA juga menarik untuk speculative buy dengan target 2.900 didukung prospek sektor logam yang mulai membaik. Sementara itu, MBMA dapat dipertimbangkan untuk trading buy dengan target 600 karena masih berpotensi memperoleh sentimen positif dari industri nikel dan kendaraan listrik. Adapun SCMA layak masuk radar speculative buy dengan target 250 setelah menunjukkan indikasi rebound dari fase konsolidasinya," ujar Hendra, Senin (6/7/2026).
Hendra menambahkan, investor juga dapat mencermati saham-saham di sektor perbankan, pertambangan logam, industri, dan media yang dinilai masih berpeluang melanjutkan momentum penguatan. Namun, ia mengingatkan agar pelaku pasar tetap disiplin menerapkan manajemen risiko karena volatilitas pasar masih cukup tinggi.
Sementara itu, IHSG diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin (6/7/2026) setelah melonjak 2,28 persen ke level 5.875 pada penutupan perdagangan Jumat (3/7/2026).
Hendra memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 5.840-5.950 dengan level 5.900 menjadi area psikologis yang akan diuji.
"Selama indeks mampu bertahan di atas area support 5.830-5.850, peluang melanjutkan penguatan masih terbuka, didukung ekspektasi suku bunga global yang lebih akomodatif, stabilnya harga minyak dunia, penguatan mata uang regional, serta optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Asia," katanya.
Dia menjelaskan, penguatan IHSG didorong oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang membaik.
Dari eksternal, pasar merespons positif data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari ekspektasi. Kondisi tersebut memunculkan harapan bahwa bank sentral AS tidak akan lagi agresif menaikkan suku bunga dalam waktu dekat sehingga mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang.
Optimisme itu turut diperkuat oleh data Purchasing Managers' Index (PMI) di sejumlah negara Asia yang masih berada di zona ekspansi. Bursa saham Asia pun bergerak menguat, sementara rupiah terapresiasi ke kisaran Rp17.962 per dolar AS sehingga menambah sentimen positif bagi pasar domestik.
Dari dalam negeri, penguatan IHSG terjadi hampir di seluruh sektor dengan sektor perindustrian menjadi motor utama. Selain itu, aksi bargain hunting pada sejumlah saham yang sebelumnya terkoreksi cukup dalam turut menopang kenaikan indeks.
Meski demikian, Hendra mengingatkan bahwa penguatan IHSG belum sepenuhnya didukung arus dana asing. Sepanjang tahun berjalan, investor asing masih membukukan net sell sekitar Rp88 triliun. Bahkan, pada perdagangan Jumat (3/7/2026), investor asing kembali mencatatkan net sell sekitar Rp16 miliar.
"Artinya, reli yang terjadi saat ini lebih banyak ditopang oleh investor domestik dan membaiknya sentimen global dibandingkan adanya arus masuk dana asing. Selama investor asing belum berbalik melakukan akumulasi secara konsisten, potensi volatilitas pasar masih tetap tinggi sehingga kenaikan IHSG diperkirakan berlangsung secara bertahap," ujar Hendra.
Dia menambahkan, setelah reli tajam pada perdagangan Jumat, tidak tertutup kemungkinan terjadi aksi ambil untung jangka pendek sehingga pergerakan IHSG pada awal pekan diperkirakan tetap fluktuatif.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.