Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Sempat Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ditutup Melemah ke Rp17.995

Anggie Ariesta , Jurnalis-Senin, 06 Juli 2026 |15:40 WIB
Rupiah Sempat Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ditutup Melemah ke Rp17.995
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini. (Foto: Okezone.com/Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini. Rupiah yang sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS ditutup turun 32 poin atau sekitar 0,18 persen ke level Rp17.995 per dolar AS.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu sentimen berasal dari faktor eksternal, yakni tensi geopolitik yang terus memanas setelah rentetan rudal dan drone Rusia menghujani ibu kota Ukraina, Kyiv, pagi ini. Serangan terbaru Moskow terjadi menjelang pertemuan puncak atau KTT NATO di Turki yang rencananya akan dihadiri Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Ledakan terdengar di seluruh pusat kota dan sejumlah warga dilaporkan masih terjebak di gedung-gedung apartemen bertingkat yang rusak, sementara serangan gabungan yang melibatkan rudal balistik dan drone terus berlanjut.

“Selain itu, meskipun pasokan fisik terus pulih, risiko geopolitik di sekitar Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama. Para pedagang mempertimbangkan sinyal yang saling bertentangan dari Washington dan Teheran mengenai keamanan dan tata kelola jalur air strategis di masa depan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran telah menyetujui ‘hampir semua yang kita butuhkan’,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Sementara itu, para pejabat Iran tetap berpendapat bahwa Teheran tidak akan melepaskan pengaruhnya atas jalur tersebut atau menerima syarat-syarat yang berkaitan dengan akses pelayaran.

Pesan yang beragam ini telah menjaga ketidakpastian tetap tinggi, sehingga membatasi penurunan harga minyak mentah meskipun Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan produsen Teluk lainnya terus memulihkan ekspor melalui Selat Hormuz.

Di AS, data penggajian nonpertanian yang lebih lemah dari perkiraan pada Juni menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa besar ruang gerak The Fed untuk menaikkan suku bunga.

Namun demikian, pelemahan dolar dibatasi oleh ketidakpastian yang berkelanjutan terkait kebijakan The Fed yang agresif, terutama setelah rapat bank sentral pada Juni menunjukkan para pembuat kebijakan semakin mendukung suku bunga yang lebih tinggi di tengah inflasi yang masih tinggi.

Fokus pasar pekan ini tertuju pada risalah rapat Federal Reserve bulan Juni yang akan dirilis. Meski demikian, masih belum jelas seberapa besar wawasan yang akan diberikan, mengingat Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menyerukan perombakan komunikasi bank sentral kepada publik.

Dari sentimen domestik, pasar merespons negatif laporan terbaru Fitch Ratings yang memberikan pandangan mengenai rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia. Hal itu tercermin dari pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga arus modal keluar yang masif.

Namun demikian, perhatian utama Fitch adalah melemahnya kepercayaan investor akibat memburuknya tata kelola ekonomi.

Pada akhirnya, lembaga pemeringkat tersebut memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah sekaligus memperbesar risiko penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia, yang pada Maret 2026 masih dipertahankan di level BBB dengan prospek (outlook) direvisi menjadi negatif.

Selain Fitch Ratings, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut.

Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar dengan meningkatkan intensitasnya untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik. Sebagai bagian dari strategi stabilisasi, intervensi dilakukan secara berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Bank sentral juga terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi maupun pelaku pasar untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.990-Rp18.050 per dolar AS.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement