Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Seluruh SPBU Ditargetkan Jual BBM B50 1 Oktober 2026

Binti Mufarida , Jurnalis-Selasa, 14 Juli 2026 |08:36 WIB
Seluruh SPBU Ditargetkan Jual BBM B50 1 Oktober 2026
Seluruh SPBU Ditargetkan Jual BBM B50 1 Oktober 2026 (Foto: Pertamina)
A
A
A

JAKARTA - Seluruh SPBU Pertamina ditargetkan menjual BBM B50 pada 1 Oktober 2026. Program mandatori B50 mewajibkan pencampuran bahan bakar yang terdiri atas 50 persen solar dan 50 persen bahan bakar berbasis minyak nabati. Saat ini, program B50 diimplementasikan secara bertahap dengan masa transisi selama tiga bulan. 

"Ditargetkan pada 1 Oktober 2026, seluruh SPBU sudah menjual B50," ujar Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Program mandatori B50 resmi diberlakukan pemerintah mulai 1 Juli 2026 merupakan bagian dari agenda strategis pemerintah untuk menjaga ketahanan ekonomi dan energi Indonesia.

Kebijakan ini juga diimplementasikan guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.

"Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan kebijakan biodiesel B50 secara nasional. Kebijakan ini menjadi bagian dari agenda strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, memperkuat nilai tambah sumber daya alam nasional, serta menjaga ketahanan ekonomi dan energi Indonesia," katanya.

Dia menyebut program mandatori biodiesel ini telah dimulai sejak 2008. Pada awalnya, program tersebut dimulai dengan B2,5 sebelum berkembang secara bertahap hingga menjadi B50.

Hemat Devisa Rp170 Triliun

Qodari mengatakan program B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun pada tahun ini. "Program ini diarahkan untuk menghentikan impor solar sepenuhnya. B50 diproyeksikan dapat menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun pada 2026," tuturnya.

Selain itu, B50 diharapkan memberikan multiplier effect yang besar berupa peningkatan nilai tambah minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebesar Rp23,49 triliun serta menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.

Dari aspek lingkungan, B50 juga diharapkan dapat menekan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO₂ pada tahun ini. Pemerintah memastikan kesiapan implementasi B50 melalui berbagai persiapan yang menyeluruh.

Dari aspek teknis, pemerintah telah melakukan pengujian penggunaan B50 pada berbagai sektor pengguna mesin diesel untuk memastikan kinerja, keamanan, dan kesesuaian penggunaan B50.

"Dari aspek pasokan dan distribusi, pemerintah memastikan kesiapan kapasitas produksi biodiesel, ketersediaan bahan baku, serta infrastruktur pencampuran (blending) dan distribusi," kata Qodari.

Qodari menegaskan bahwa kemandirian energi merupakan salah satu syarat utama agar Indonesia mampu berdiri sebagai bangsa yang berdaulat. Program mandatori B50 menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi dengan memanfaatkan sumber daya alam nasional.

 

Masa Transisi ke B50 hingga September

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) memastikan proses transisi dari program mandatori biodiesel B40 menuju B50 akan dilakukan secara bertahap hingga 30 September 2026 guna menjaga kelancaran pasokan energi nasional.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan, Pertamina siap menjalankan penugasan pemerintah dalam pelaksanaan program mandatori Biodiesel B50 yang resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026. Menurutnya, perusahaan telah menyiapkan infrastruktur, sistem distribusi, serta rantai pasok biodiesel agar implementasi B50 berjalan sesuai ketentuan.

"Sesuai ketentuan pemerintah, Program Mandatori B50 akan memasuki masa transisi hingga 30 September 2026. Selama periode tersebut, Pertamina melakukan penyesuaian penyaluran secara bertahap guna mendukung kelancaran peralihan dari B40 menuju B50 dengan tetap menjaga keandalan pasokan energi nasional," kata Simon dalam keterangan resmi.

Kurangi Impor Solar

Ia menjelaskan, program B50 menjadi langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan pemanfaatan energi domestik. Kebijakan tersebut juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.

Pertamina memperkirakan implementasi penuh program B50 dapat menekan impor solar hingga sekitar 18 juta kiloliter pada 2026 atau setara sekitar 310 ribu barel per hari. Pengurangan impor tersebut dinilai akan memperkuat kemandirian energi sekaligus meningkatkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan pengalaman perusahaan menjalankan program biodiesel mulai dari B20, B30, B35, hingga B40 menjadi bekal penting dalam memastikan transisi menuju B50 berjalan lancar.

Menurut Baron, Pertamina bersama Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan seluruh aspek operasional, mulai dari infrastruktur, distribusi, hingga koordinasi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan.

"Kami juga memastikan kualitas Biosolar B50 yang disalurkan memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan pemerintah sehingga masyarakat dapat memperoleh produk dengan mutu yang tetap terjaga," ujarnya.

Sebelum implementasi B50, Pertamina bersama pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan juga telah melakukan serangkaian pengujian untuk memastikan kesiapan fasilitas, kualitas produk, dan kelancaran distribusi di berbagai wilayah Indonesia.

Melalui pelaksanaan masa transisi hingga akhir September, Pertamina berharap proses peralihan dari B40 ke B50 dapat berlangsung tanpa mengganggu pasokan energi bagi masyarakat maupun sektor industri.
 

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement