“Platform fee dapat dianalogikan sebagai ‘bensin’ untuk menjaga kelangsungan ekosistem digital, meskipun tentu harus dipahami secara proporsional,” katanya.
“Tanpa platform fee, kemampuan platform untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan akan berkurang. Namun, sebagaimana bensin, pengguna juga akan memperhatikan apakah ‘harga’ yang dibayar masih memberikan manfaat yang sepadan,” lanjutnya.
Yudo menjelaskan, perusahaan biasanya mempertimbangkan sejumlah faktor dalam menentukan besaran platform fee, seperti biaya operasional teknologi, kebutuhan investasi, tingkat persaingan, nilai manfaat bagi pengguna, hingga daya beli masyarakat.
Menurutnya, pembatasan platform fee yang terlalu ketat berpotensi memengaruhi kemampuan perusahaan dalam memberikan layanan pendukung bagi ekosistem, termasuk program yang berdampak kepada mitra pengemudi.
“Jika biaya dianggap terlalu tinggi dibanding manfaat yang diterima, konsumen relatif mudah berpindah ke platform lain. Oleh karena itu, perusahaan memiliki insentif untuk menjaga agar platform fee tetap berada pada tingkat yang dapat diterima pasar,” ujarnya.