JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup naik 94 poin atau sekitar 0,52 persen ke level Rp17.933 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (5/8/2026).
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni pasar merespon positif terhadap pernyataan Qatar pada hari Selasa menyatakan bahwa para mediator telah mencapai kemajuan dalam upaya mengakhiri perang yang mendorong penurunan harga minyak meskipun Teheran membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa perundingan sudah berlangsung.
"Harga minyak Brent ditutup di bawah USD80 per barel pada hari Selasa, untuk pertama kalinya sejak 13 Juli," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Trump dan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, membahas upaya untuk memperkecil perbedaan antara Washington dan Teheran serta meningkatkan prospek penyelesaian jangka panjang dalam sebuah percakapan telepon pada hari Selasa, menurut keterangan kantor Emir Qatar.
Trump mengatakan pada hari Senin bahwa perundingan dengan Teheran telah dimulai dan Iran menghadapi "kesempatan terakhir" untuk mencapai kesepakatan. Namun, para pejabat Iran menegaskan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan AS.
Para pengamat kebijakan moneter sedang memantau data pasar tenaga kerja AS minggu ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai suku bunga. Para pedagang kini menunggu data Perubahan Ketenagakerjaan ADP malam ini dan Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Jumat untuk mendapatkan sinyal yang lebih jelas tentang pasar tenaga kerja AS dan jalur kebijakan moneter.
Perubahan Ketenagakerjaan ADP untuk bulan Juli, dengan perusahaan swasta diperkirakan telah mempekerjakan 70.000 orang, turun dari 98.000 pekerjaan yang tercipta pada bulan Juni. Angka ketenagakerjaan yang lebih rendah dapat semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Dari sentimen dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II/2026. Sedangkan berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II/2026 atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.552,1 triliun dan atas dasar harga konstan senilai Rp3.576,2 triliun.
Sehingga pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2026 bila dibandingkan dengan triwulan I/2025 atau secara year on year tumbuh 5,29%. Bila dibandingkan dengan triwulan I/2026 atau secara Q-to-Q, ekonomi tumbuh sebesar 3,73% dan bila dibandingkan dengan semester I/2025 atau secara C-to-C, PDB tumbuh sebesar 5,45%.
Data pertumbuhan ekonomu kuartal II yang di rilis BPS, berbanding terbalik dengan para ekonom yang memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2026 akan berada antara 4,8% sampai 4,9%. Proyeksi itu jauh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi periode sebelumnya atau kuartal I/2026 yang capai 5,61%. Perlambatan ini dipicu tekanan dari tingginya biaya produksi akibat gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, hingga ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14% pada Juli 2026, melandai dari bulan sebelumnya. Meskipun inflasi tahunan berada di tingkat 2,88% dan sektor pendidikan menghadapi tekanan musiman tahun ajaran baru, penurunan harga pangan memberikan penyeimbang bagi pengeluaran jangka pendek.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.930-Rp17.980 per dolar AS.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.