"153 ton emas itu nilainya sekitar 20 miliar dolar AS. Sedangkan ETF di India itu baru 17 sampai 18 miliar dolar AS. Jadi ini potensi kita untuk mengalahkan berbagai negara, termasuk kalau sebelumnya Singapura masih unggul, sekarang dengan adanya bullion bank, mereka sudah lewat," tegasnya.
Mengingat sifat komoditas emas sebagai aset lindung nilai (safe haven), Airlangga optimistis penguatan instrumen ETF Emas akan menjadi pilihan investasi yang tangguh bagi masyarakat dan pelaku pasar.
"Jadi ini adalah hal yang baik yang dilakukan oleh Indonesia, apalagi dalam situasi ketidakpastian ini untuk emas selalu menjadi safe haven dari pada investasi," pungkas Airlangga.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.