JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memberi sorotan tajam terhadap kondisi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mulai dari jumlah BUMN yang dinilai terlalu banyak, perusahaan yang disebut tidak produktif dan terus merugi, hingga rencana mengusut jajaran direksi BUMN selama 30 tahun ke belakang.
Dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026), Prabowo juga menegaskan BUMN bukan milik direksi maupun komisaris. Menurutnya, perusahaan negara merupakan aset seluruh rakyat Indonesia.
Prabowo menegaskan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bukan milik direksi dan komisaris. Menurutnya, BUMN merupakan milik seluruh rakyat Indonesia dan tidak boleh menjadi sumber dana bagi penguasa.
"BUMN adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Bukan milik direksi. Bukan milik komisaris. Bukan pula sumber dana bagi penguasa," kata Prabowo saat Pidato Kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Prabowo mengaku terkejut setelah pemerintah menemukan terdapat 1.074 BUMN saat Danantara dibentuk. Jumlah tersebut mencakup sejumlah perusahaan yang memiliki anak, cucu, bahkan cicit usaha.
Prabowo mengatakan sebelumnya dirinya memperkirakan jumlah BUMN hanya sekitar 300-400 perusahaan.