JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Juli 2026 mencatatkan defisit yang terjaga rendah di level 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Selain defisit, Prabowo mengungkapkan bahwa belanja negara tumbuh 18,2 persen (yoy).
“Walaupun belanja negara tumbuh, defisit APBN tetap terjaga hanya 0,91 persen terhadap produk domestik bruto,” kata Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-1 Tahun Sidang 2026, Jumat (14/8/2026).
Prabowo memaparkan bahwa postur pendapatan negara mengalami lonjakan signifikan sebesar 21,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Ini peningkatan yang cukup signifikan,” ujar Prabowo.
Di sisi lain, penyerapan belanja negara juga mencatatkan pertumbuhan pesat sebesar 18,2 persen (yoy). Menurut Prabowo, pemanfaatan belanja tersebut difokuskan untuk menopang ketahanan ekonomi masyarakat bawah serta meningkatkan kualitas infrastruktur publik.
“Belanja kita arahkan untuk menjaga daya beli rakyat, memperkuat pelayanan publik, dan menggerakkan ekonomi,” tegas Kepala Negara.
Meski alokasi belanja negara melaju kencang, Presiden menekankan bahwa tata kelola keuangan pemerintah tetap berada dalam koridor kehati-hatian yang ketat.
Capaian tersebut, menurut Presiden, menjadi bukti nyata bahwa komitmen pemerintah dalam mengalokasikan anggaran bagi kesejahteraan masyarakat tidak harus mengorbankan stabilitas makroekonomi dan kesehatan APBN.
“Ini adalah bukti bahwa keberpihakan pada rakyat dapat berjalan bersama disiplin fiskal. Kita tidak memilih antara pertumbuhan dan kehadirannya, kita memilih keduanya, kita tidak memilih antara membantu rakyat dan menjaga APBN, kita melakukan kedua-duanya,” pungkas Prabowo.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.