Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Melemah ke Rp17.862, Pasar Menanti Keputusan BI Besok

Anggie Ariesta , Jurnalis-Selasa, 18 Agustus 2026 |16:13 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.862, Pasar Menanti Keputusan BI Besok
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini. (Foto: Okezone.com)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini. Rupiah turun 64 poin atau sekitar 0,36 persen ke level Rp17.862 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen yang menekan rupiah berasal dari faktor eksternal, yakni harga minyak yang kembali memanas setelah Trump mengatakan Amerika Serikat tidak akan mengupayakan perpanjangan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran yang ditandatangani pada pertengahan Juni dan berakhir pada Senin.

“Ia menegaskan kembali bahwa AS memegang kendali penuh atas Hormuz dan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, klaim yang keduanya dibantah oleh pihak Iran,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Selasa (18/8/2026).

Trump juga mengancam akan membom Oman habis-habisan jika negara itu "menghalangi", meskipun tidak segera jelas apa dasar ancaman tersebut.

Iran akan beralih ke postur militer yang "sepenuhnya ofensif" karena upaya negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen dengan AS menemui jalan buntu. Pernyataan tersebut disampaikan seorang pejabat senior Iran kepada Reuters pada Senin, sementara Washington menolak memperpanjang perjanjian gencatan senjata sementara.

Selain itu, kelompok Houthi Yaman kembali menyerang kapal militer Saudi dan empat kapal pengawal di Laut Merah menggunakan rudal, menurut juru bicara militer kelompok tersebut, Yahya Saree, melalui Telegram.

Secara terpisah, Iran dan Oman baru-baru ini mengisyaratkan adanya pembicaraan mengenai jalur pelayaran melalui Hormuz, yang membantu meredakan sebagian kekhawatiran mengenai semakin ketatnya pasokan minyak. Namun, belum ada pengumuman mengenai kesepakatan yang pasti.

Risiko inflasi akibat kenaikan harga energi yang terus berlanjut membuat pasar belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini.

“Para pelaku pasar kini menantikan risalah rapat FOMC bulan Juli yang akan dirilis hari Rabu untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed,” ujar Ibrahim.

Dari sentimen dalam negeri, harga minyak mentah di atas US$83 per barel meningkatkan beban devisa negara untuk impor energi. Kebutuhan impor minyak mentah yang tinggi memaksa pelaku usaha dan pemerintah melakukan pembayaran dalam denominasi dolar AS. Lonjakan permintaan dolar AS untuk membeli minyak mentah di pasar global memperkuat posisi mata uang Paman Sam dan menekan nilai tukar rupiah.

Kemudian, Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai USD453,4 miliar atau sekitar Rp8.089,1 triliun. Posisi tersebut tumbuh 4,4 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan posisi ULN Indonesia pada Mei 2026 yang tercatat sebesar USD444,4 miliar atau sekitar Rp7.928,5 triliun.

Perkembangan ULN pada triwulan II 2026 menunjukkan ULN Indonesia tetap terjaga dengan dukungan peningkatan ULN publik dan kontraksi ULN swasta yang semakin rendah.

ULN pemerintah pada triwulan II 2026 tercatat sebesar USD216,3 miliar atau sekitar Rp3.860,4 triliun, tumbuh 2,9 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I 2026 sebesar 3,8 persen (yoy).

Perkembangan utang pemerintah terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap terjaga.

Selain itu, BI mulai menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama dua hari pada 18–19 Agustus 2026. Keputusan kebijakan moneter akan diumumkan pada Rabu (19/8/2026).

BI diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen setelah menaikkan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin sepanjang April–Juni 2026.

Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati pandangan BI mengenai stabilitas rupiah, inflasi domestik, kondisi likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.

Sikap dan panduan BI akan menjadi salah satu penentu arah rupiah berikutnya di tengah ketidakpastian global, setelah fase stabilisasi yang cukup agresif selama beberapa bulan terakhir di bawah kepemimpinan Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.860–Rp17.920 per dolar AS.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement