Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS, Ini Penopangnya

Anggie Ariesta , Jurnalis-Jum'at, 02 Oktober 2026 |15:44 WIB
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS, Ini Penopangnya
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS, Ini Penopangnya (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 84 poin atau sekitar 0,47 persen ke level Rp17.882 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni di tengah meningkatnya spekulasi bahwa konflik AS-Iran dapat memanas setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada bulan November dan sebelumnya Amerika akan mengirimkan tambahan 10.000 tentara ke Timur Tengah dan bahwa Trump berencana untuk kembali melancarkan serangan bom terhadap Iran pada bulan November.

"Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Para pejabat The Fed, yang dipimpin oleh Wakil Ketua Philip Jefferson, menyatakan bahwa perekonomian berada di dekat kondisi lapangan kerja maksimal, sembari menekankan perlunya sikap sabar terkait penyesuaian suku bunga.

Di sisi lain, Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, tetap bersikap hawkish dengan menyerukan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Pasar sedang menantikan laporan *nonfarm payrolls* bulan September yang akan dirilis pada hari Jumat ini. Para ekonom memperkirakan pemberi kerja di AS telah menambah hampir 90.000 lapangan kerja turun dari 162.000 pada bulan Agustus sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap di angka 4,1 persen.

Namun, data inflasi yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lagi bulan ini; pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen, turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya.
Internal.

Dari sentimen dalam negeri, Bank Indonesia memperluas surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter. Kebijakan ini membuka ruang yang lebih besar bagi perbankan untuk mengelola likuiditas sekaligus mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan. 

Perluasan tersebut dilakukan dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi sebagai underlying operasi moneter.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement