Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

CNG Kurangi Impor LPG, Orkestrasi PGN Salurkan Gas Bumi ke Rumah Tangga-Industri

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Kamis, 20 Agustus 2026 |08:02 WIB
CNG Kurangi Impor LPG, Orkestrasi PGN Salurkan Gas Bumi ke Rumah Tangga-Industri
CNG Kurangi Impor LPG, Orkestrasi PGN Salurkan Gas Bumi ke Rumah Tangga-Industri (Foto: Dani/Okezone)
A
A
A

YOGYAKARTA - Pemanfaatan gas bumi ke sendi-sendi kehidupan masyarakat terus dilakukan. Ikhtiar ini menjadi jalan untuk mengurangi ketergantungan impor LPG sehingga menghemat subsidi energi.

Salah satu hal yang menjadi concern saat ini adalah penggunaan gas bumi berbasis Compressed Natural Gas (CNG). 

Melalui inovasi pemanfaatan gas bumi berbasis Compressed Natural CNG clustering, masyarakat Yogyakarta, khususnya kabupaten Sleman, kini sudah dapat menikmati manfaat nyata dari gas bumi yang aman, andal, dan efisien untuk memasak sehari-hari.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) mengoptimalkan sinergi bersama anak perusahaannya, PT Gagas Energi Indonesia (Gagas) dengan mengangkut gas dalam CNG menggunakan truk sebelum mengubahnya kembali menjadi pasokan gas bertekanan rendah untuk rumah tangga.

CNG dikembangkan untuk membuka akses gas bumi ke wilayah yang tidak memiliki sumber gas di sekitarnya, seperti halnya di Yogyakarta.

Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan mengatakan, CNG memiliki keunggulan karena menggunakan gas bumi yang bersumber dari dalam negeri. Menurut dia, pemanfaatan CNG juga dapat mendukung kemandirian energi nasional.

"Karena ini domestik. Tidak impor. Jadi asli Indonesia," ujar Santiaji di Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).

Gas Bumi Berbasis CNG

Dia menambahkan, pengembangan CNG perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperluas pilihan energi bagi masyarakat dan pelaku usaha.

“Kami melihat ini bukan soal menggantikan satu energi dengan energi lain, melainkan memperluas pilihan,” ujarnya.

Menurut Santiaji, penggunaan CNG tidak hanya ditujukan untuk sektor industri. PGN Gagas juga mengembangkan pemanfaatannya untuk rumah tangga melalui sistem jaringan klaster serta pelanggan komersial melalui skema point-to-point.

Pengembangan CNG tersebut menjadi salah satu cara PGN Gagas memperluas akses gas bumi ke wilayah yang tidak memiliki sumber gas di dekatnya.

Gas Bumi Berbasis CNG

 

Proses CNG Masuk Rumah Tangga

Gas terlebih dahulu dikompresi dan diangkut menggunakan Gas Transport Module (GTM). Setelah tiba di lokasi, tekanan gas diturunkan melalui Pressure Regulating Station (PRS) sebelum disalurkan kepada pelanggan.

"Ini adalah ide kita bahwa kan biasanya kalau pipa gas, gas pipa itu kan kalau ada sumber gas, pakai pipa. Karena Yogyakarta  ini tidak ada sumber gasnya, jauh dari sumber gas, makanya dengan cara adalah dengan CNG," jelasnya.

Dengan sistem tersebut, masyarakat di wilayah yang jauh dari sumber gas tetap dapat menikmati gas bumi.

Meski memiliki tekanan tinggi saat diangkut, PGN Gagas memastikan CNG yang disalurkan kepada pelanggan telah melalui proses penurunan tekanan secara bertahap.

Tekanan CNG yang berada di dalam GTM dapat mencapai sekitar 200 bar. Tekanan tersebut kemudian diturunkan melalui PRS sebelum masuk ke jaringan pelanggan rumah tangga.

Untuk rumah tangga, tekanan kembali diturunkan melalui Regulating Station (RS) hingga mencapai tekanan yang sesuai untuk digunakan pada kompor.

Santiaji menegaskan aspek keselamatan menjadi bagian penting dalam pengembangan CNG.

"Kementerian tetap sedang mengkaji terus aspek safety-nya. Supaya yang nanti disampaikan masyarakat adalah dengan barang yang sudah dengan aspek safety yang tinggi," ujarnya.

Gas Bumi

PGN Gagas juga melakukan patroli jaringan dan menyiagakan operator selama 24 jam untuk mengantisipasi gangguan, termasuk potensi kebocoran. Selain itu, gas bumi yang disalurkan telah diberi odoran untuk membantu masyarakat mendeteksi kebocoran sejak dini.

PGN Gagas saat ini telah mengembangkan CNG di sejumlah wilayah Indonesia. Penggunaan CNG mencakup pelanggan rumah tangga hingga sektor komersial seperti hotel, restoran, dan kafe.

Untuk Yogyakarta, volume penggunaan CNG saat ini sekitar 74.000 meter kubik per bulan. Angka tersebut masih berpotensi meningkat sekitar 10.000 meter kubik sehingga dapat mencapai sekitar 84.000 meter kubik per bulan.

Santiaji mengatakan pengembangan CNG tetap harus memperhatikan aspek keekonomian. Menurutnya, jarak sumber gas dengan lokasi pelanggan menjadi salah satu faktor yang menentukan biaya distribusi.

"Yang penting kan ekonomian. Karena kalau dengan ekonomi, masyarakat bisa nyerap harganya kan lebih enak," katanya.

Gas Bumi

 

Pelanggan Hemat Biaya Energi

Pemilik Nasi Goreng Pak Wit, Elin telah menjalankan restoran tersebut sejak 2012 dan mulai menggunakan jargas CNG sekitar setahun terakhir. 

Untuk mengoperasikan empat kompor, Elin sebelumnya mengeluarkan biaya gas sekitar Rp1,5 juta per bulan. Setelah menggunakan CNG, pengeluaran tersebut menjadi sekitar Rp 600.000-an per bulan. 

Sebelum beralih ke CNG, Elin menggunakan LPG dalam berbagai ukuran. Persoalan ketersediaan LPG membuat pasokan energi menjadi salah satu kekhawatiran dalam menjalankan restoran.

“Dulu sering khawatir kalau gas habis. Saya pakai semua ukuran gas, ada yang 12 kg dan lainnya. Karena susah, kadang langka,” ujar Elin.

Nasi Goreng Pak Wit memiliki enam karyawan dan beroperasi setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00. Elin mengatakan, penggunaan CNG bermula dari pendekatan melalui pengurus RT. 

“Pendekatan dari RT buat pasang gas CNG ini. Tidak menyesal karena makin irit,” katanya.

Sementara, Restoran Payakumbuah Yogyakarta juga menggunakan gas dari Gagas sejak pertama kali beroperasi pada 24 November 2024. 

Menurut PIC Restoran Payakumbuah Yogyakarta Adi Saputro, selain biaya yang kompetitif, aspek keamanan dan keberlangsungan pasokan menjadi pertimbangan restoran dalam menggunakan CNG. 

Konsumsi CNG restoran tersebut berada di kisaran 1.900-2.000 meter kubik per bulan dengan harga sekitar Rp13.500 per meter kubik. Sebelum menggunakan CNG, biaya energi restoran dapat mencapai sekitar Rp40 juta per bulan. 

Setelah beralih menggunakan gas, biaya tersebut berada di kisaran Rp25 juta, Rp27 juta, hingga Rp30 juta per bulan. 

Adi mengatakan, nominal biaya setiap bulan dapat berubah mengikuti pemakaian.

 “Nominalnya memang fluktuatif. Kalau menggunakan energi sebelumnya, biayanya bisa sampai sekitar Rp40 juta per bulan,” ujar Adi.
 
“Setelah menggunakan gas, biayanya sekitar Rp25 juta, Rp27 juta, sampai Rp30 juta per bulan. Jadi, masih ada efisiensi sekitar 30 persen,” tambahnya.

Gas Bumi

 

Gas Bumi Masuk ke Sendi Kehidupan

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, kesiapan PGN dalam implementasi jargas berbasis CNG di Sleman. Inovasi ini sejalan dengan langkah pemerintah yang terus mendorong pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi yang lebih bersih, efisien, dan berasal dari sumber daya domestik untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Melalui RPJMN 2026-2029, pemerintah menargetkan pengembangan sekitar 350 ribu sambungan rumah per tahun melalui berbagai skema pendanaan.

"Penggunaan CNG dan jargas berdampak pada efisiensi Ibu-ibu rumah tangga, praktis dan aman. Sedangkan bagi Pemerintah dapat mengurangi konsumsi LPG Subsidi dan mengurangi beban subsidi dan impor LPG," ujar Yuliot dalam keterangannya, Jakarta, Senin (22/6/2026).

Direktur Utama PGN Arief K Risdianto menyambut baik kunjungan Wakil Menteri ESDM tersebut dan menyampaikan apresiasi kepada KESDM serta stakeholder terkait atas dukungan implementasi CNG Clustering di Sleman ini. 

PGN menegaskan bahwa jargas Sleman yang menggunakan skema CNG clustering berhasil dilaksanakan sekaligus menjadi bukti nyata bahwa inovasi tersebut dapat diterapkan di wilayah lain di Indonesia. 

Dengan skema CNG Clustering ini, gas bumi dapat didistribusikan secara aman dan andal ke jaringan distribusi rumah tangga, tanpa menunggu keberadaan jaringan pipa transmisi utama.

"Masyarakat tidak perlu khawatir terkait keamanan, karena CNG yang bertekanan tinggi sekitar 200 bar telah disesuaikan dengan sistem cluster agar mengalir dengan aman ke dapur-dapur rumah tangga. Dengan pengawasan yang ketat dan teknologi pengaturan tekanan (PRS) yang andal, aliran gas bumi ke dapur-dapur dipastikan aman untuk penggunaan sehari-hari,” jelas Arief.

Arief melanjutkan, kehadiran jargas ini sangat mendukung aktivitas memasak rumah tangga menjadi jauh lebih praktis, efisien dan tenang karena keamanannya terjaga. Di sisi lain, jargas ini merupakan langkah nyata untuk membantu pemerintah dalam meringankan beban anggaran negara dengan mengurangi ketergantungan pada impor dan subsidi energi.

Hingga saat ini, PGN telah membangun lebih dari 4.500 Sambungan Rumah (SR) di Sleman dengan bentangan jaringan pipa distribusi sepanjang lebih dari 141 kilometer. 

Rata-rata penyaluran gas bumi kepada pelanggan Jargas Sleman telah mencapai sekitar 84 ribu meter kubik (M3) per bulan. Angka ini setara dengan pemanfaatan sekitar 64 metrik ton LPG per bulan.

Pemanfaatan jargas di wilayah Sleman juga tidak hanya menyasar sektor rumah tangga, tetapi akan terus diperluas secara masif untuk memperkuat ekonomi lokal, mulai dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), restoran, perhotelan, hingga fasilitas kesehatan seperti rumah sakit.

Dalam mengeksekusi layanan beyond pipeline ini, PGN mengoptimalkan sinergi bersama anak perusahaannya, PT Gagas Energi Indonesia (Gagas), yang telah memiliki portofolio dalam pengelolaan distribusi gas non-pipa. 

Saat ini, PGN melalui Gagas mengelola dan mengoperasikan 14 SPBG/Mother Station serta 4 Mobile Refueling Unit (MRU) yang telah menjangkau berbagai konsumen CNG di sektor transportasi, komersial, dan industri di berbagai wilayah Indonesia.

Salah satu pelanggan komersial yang telah menggunakan CNG adalah Rumah Makan Payakumbuah Yogyakarta, dengan pemakaian CNG mencapai 2.000 - 2.300 M³. Manfaat yang dirasakan pada operasional rumah makan ini adalah efisiensi biaya energi. Jika dibandingkan energi sebelumnya, memakai CNG dapat menghemat biaya sekitar 30 – 33%.

"Kami siap mendukung langkah Pemerintah dalam merumuskan pemanfaatan implementasi CNG yang tepat sasaran dan berperan aktif dalam target diversifikasi energi nasional," tutup Arief

Penghematan Pakai CNG

Sekadar informasi, salah satu keunggulan utama CNG adalah harga yang lebih kompetitif dibandingkan LPG. Berdasarkan perhitungan pemerintah, biaya penggunaan CNG dapat lebih rendah sekitar 30% hingga 40%. 

"Harganya lebih murah 30% sampai 40% dari pada LPG,” ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026). 

Bahlil menjelaskan bahwa efisiensi tersebut berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap anggaran subsidi energi. Dengan nilai subsidi LPG yang saat ini mencapai sekitar Rp86 triliun hingga Rp90 triliun per tahun, penghematan dapat mencapai sekitar Rp27 triliun hingga Rp30 triliun apabila penggunaan CNG mampu menekan biaya sekitar 30%. 

“Kalau 30% sampai 40%, sekarang subsidi kita berapa? Rp86 triliun sampai Rp90 triliun. Kali rata-rata lah, kalau katakanlah 25%, kali 30%, berarti kan Rp27 triliun sampai Rp30 triliun bisa kita lakukan efisiensi,” kata Bahlil.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement