Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pengurangan Emisi PLTP Gunung Salak Berpotensi Jadi Aset Karbon

Feby Novalius , Jurnalis-Minggu, 06 September 2026 |14:22 WIB
Pengurangan Emisi PLTP Gunung Salak Berpotensi Jadi Aset Karbon
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengunjungi booth PLN Indonesia Power (Foto: Okezone)
A
A
A

Dalam penandatanganan tersebut, PLN Indonesia Power diwakili Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga Julita Indah, sedangkan South Pole AG diwakili Specialist, Business Development Sustainable Technologies - SEA Fadri Mokolintad.

Pengembangan aset karbon tersebut memanfaatkan potensi pengurangan emisi dari peningkatan kapasitas PLTP Gunung Salak. Melalui skema monetisasi karbon, pengurangan emisi dari pembangkit energi terbarukan dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan insentif bagi keberlanjutan investasi dan pengembangan energi bersih.

PLTP Gunung Salak menjadi salah satu aset pembangkit panas bumi yang dikembangkan PLN IP untuk mendukung pemanfaatan energi terbarukan. Pengembangan kapasitas pembangkit tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan pemanfaatan energi panas bumi, tetapi juga membuka peluang pengelolaan manfaat lingkungan yang dihasilkan dari operasional pembangkit.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya PLN IP mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan sebagai bagian dari perjalanan transisi energi Indonesia. Pengembangan aset karbon PLTP Gunung Salak diharapkan dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas dari energi bersih, baik dari sisi pengurangan emisi maupun penciptaan nilai ekonomi.

Sementara itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan percepatan transisi energi menjadi penting di tengah dinamika geopolitik global yang turut memengaruhi ketersediaan energi.

“Dinamika geopolitik global menunjukkan bahwa ketersediaan energi menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama. Karena itu, Indonesia perlu terus mendorong kemandirian dan swasembada energi melalui peningkatan pasokan, pembangunan infrastruktur, serta percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” ujar Yuliot.

Yuliot menyampaikan hal tersebut saat membuka rangkaian INDOEBTKE CONEX 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9). Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Norman Ginting, serta pemangku kepentingan dan akademisi di bidang energi bersih dan transisi energi.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement