Penjualan rokok merek Gudang Garam sendiri mengalami penurunan dari 23,7 miliar batang pada Januari-Juni 2025 menjadi 20,5 miliar batang pada periode yang sama tahun ini. Sementara itu, sales revenue juga mengalami penurunan dari Rp44,36 triliun pada 2025 menjadi Rp41,17 triliun pada paruh pertama 2026.
Di sisi lain, Heru menjelaskan bahwa ketika perseroan menaikkan harga jual produk, tantangan yang dihadapi adalah persaingan dengan rokok ilegal tanpa cukai yang memiliki harga jual lebih rendah. Kondisi ini juga diperparah oleh daya beli masyarakat yang relatif belum meningkat ketika dihadapkan dengan harga rokok yang tinggi.
"Yang kita perhatikan adalah, kalau kita menjadi rokok termahal, itu mendorong suasana konsumen, mungkin menengah ke bawah mencoba merek lain. Jadi itu adalah pertimbangan yang kalau kita misalnya hanya menekankan pada profitabilitas," pungkasnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.