Teknologi juga dibutuhkan ketika minyak sudah ditemukan dan lapangan mulai berproduksi. Tantangannya kemudian berubah: bagaimana mempertahankan sekaligus meningkatkan perolehan dari aset yang telah ada.
Elnusa menjawab kebutuhan tersebut melalui pengembangan Integrated Chemical Services yang dijalankan melalui anak usahanya, PT Elnusa Petrofin.
Portofolio tersebut mencakup specialty chemical, drilling fluid, fluid separation, flow assurance, asset integrity assurance, water treatment, hingga Enhanced Oil Recovery (EOR).
Salah satu pengembangannya adalah Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) melalui kolaborasi dengan Pertamina Technology & Innovation (TI). Sinergi tersebut mempertemukan kemampuan riset dan pengembangan teknologi dengan kompetensi engineering serta implementasi operasional di lapangan.
Perjalanan itu antara lain diwujudkan melalui Project CEOR Rama pada Juli 2026.
Teknologi polymer flooding digunakan untuk membantu meningkatkan perolehan minyak dari aset yang telah berproduksi. Bagi industri hulu, teknologi semacam ini menjadi bagian dari upaya memperpanjang produktivitas aset sekaligus mengoptimalkan sumber daya yang telah tersedia.
Di balik teknologi tersebut terdapat pekerjaan yang lebih mendasar. Sebelum minyak dapat dioptimalkan perolehannya, sumur harus dibor dengan presisi dan aman.
Research & Development Specialty & Refinery Chemical Elnusa Ihsan Arifin menjelaskan, bisnis Chemicals memiliki tiga lini utama, yakni Drilling Fluid Chemicals, Specialty Chemicals, dan Enhanced Oil Recovery (EOR).
Ketiganya bekerja pada tahapan berbeda dalam perjalanan minyak dari dalam bumi hingga menjadi energi yang digunakan masyarakat.
Pada tahap pengeboran, misalnya, diperlukan drilling fluid atau lumpur pemboran. Berbeda dengan sumur air, sumur minyak memiliki kedalaman dan tekanan yang jauh lebih tinggi sehingga membutuhkan lumpur dengan formulasi khusus.
“Lumpur ini punya spesifikasi khusus, yang ternyata tidak sembarangan. Dan di sinilah lumpur ini diformulasikan atau dibuat,” kata Ihsan.
Kapabilitas tersebut turut mendukung milestone operational excellence dalam perjalanan lima tahun alih kelola sejumlah Wilayah Kerja Rokan oleh Pertamina Hulu Rokan (PHR), termasuk proyek CEOR di Sumatra Light North dan Sumatra Light South.
Bagi Elnusa, rangkaian teknologi tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak berhenti ketika cadangan ditemukan. Inovasi justru terus dibutuhkan untuk menjaga agar sumber daya yang telah ditemukan dapat memberikan nilai lebih panjang.
Rustam menilai integrasi berbagai kapabilitas dalam ekosistem Pertamina menjadi kekuatan penting perusahaan dalam menjawab kebutuhan industri.
“Target peningkatan produksi minyak nasional membutuhkan orkestrasi seluruh kapabilitas dalam ekosistem hulu. Elnusa mengambil peran melalui integrasi teknologi, kompetensi, dan eksekusi operasional agar setiap solusi yang kami hadirkan dapat memberikan kontribusi terukur terhadap peningkatan produktivitas aset,” katanya.