Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tetapkan BI Rate, BI Kembali RDG Tatap Muka Usai 1,5 Tahun Online

Anggie Ariesta , Jurnalis-Rabu, 23 September 2026 |14:29 WIB
Tetapkan BI Rate, BI Kembali RDG Tatap Muka Usai 1,5 Tahun Online
Tetapkan BI Rate, BI Kembali RDG Tatap Muka Usai 1,5 Tahun Online (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan secara langsung (offline) untuk pertama kalinya setelah dilaksanakan secara daring (online) selama 1,5 tahun. Pertemuan tatap muka tersebut dihadiri secara lengkap oleh seluruh jajaran Dewan Gubernur BI.

"Akhirnya kita jumpa lagi setelah 1,5 tahun kita online, Alhamdulillah kita bertemu lagi," ungkap Gubernur BI Destry Damayanti dalam pengumuman Hasil RDG BI Bulan September, Rabu (23/9/2026).

Susunan Dewan Gubernur BI selain Destry yang hadir lengkap pada pengumuman RDG kali ini di antaranya Deputi Gubernur Senior Aida S Budiman, Deputi Gubernur Filianingsih Hendarta, Deputi Gubernur Ricky P Gozali, Deputi Gubernur Thomas AM Djiwandono dan Deputi Gubernur Solikin M Juhro.

Sebelumnya, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75 persen pada RDG September 2026. Bank sentral dijadwalkan mengumumkan hasil keputusan RDG tersebut pada Rabu (23/9/2026) pukul 14.00 WIB.

“Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75 persen pada September 2026,” tulis LPEM FEB UI dalam laporan risetnya.

 

LPEM FEB UI menerangkan bahwa proyeksi tersebut mempertimbangkan dinamika indikator ekonomi terbaru, khususnya laju inflasi pada Agustus 2026 yang bergerak ke level 3,19 persen secara tahunan (year-on-year), naik dari posisi 2,88 persen pada Juli 2026. Peningkatan tersebut utamanya disumbang oleh komponen harga bergejolak (volatile food).

Tekanan inflasi pada Agustus 2026 bersumber dari pasokan pangan yang sebagian besar berada di luar jangkauan instrumen kebijakan moneter. Pengetatan suku bunga lebih lanjut dinilai berisiko menekan laju kredit dan aktivitas dunia usaha.

Meskipun instrumen suku bunga dapat menjangkarkan ekspektasi, daya jangkauannya terbatas terhadap gejolak dari sisi penawaran (supply-side), sehingga koordinasi pengawasan distribusi dan ketersediaan stok pangan tetap menjadi langkah pelengkap yang penting.
 

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement