Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BI Pangkas SRBI, Kini Tinggal Rp900 Triliun

Rohman Wibowo , Jurnalis-Jum'at, 23 Oktober 2026 |19:00 WIB
BI Pangkas SRBI, Kini Tinggal Rp900 Triliun
BI Pangkas SRBI, Kini Tinggal Rp900 Triliun (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengkalibrasi strategi penerbitan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai bagian dari langkah normalisasi dan penguatan operasi moneter demi mengelola likuiditas di pasar uang. Kebijakan ini untuk memastikan kecukupan pasokan dana di sistem keuangan agar transmisi suku bunga acuan berjalan efektif sekaligus menjaga pergerakan suku bunga jangka pendek tetap stabil.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menggarisbawahi ketersediaan likuiditas yang proporsional di pasar uang menjadi syarat agar efektivitas transmisi kebijakan moneter dapat bekerja optimal hingga ke perbankan dan pengendalian inflasi. Pengaturan volume likuiditas tersebut ditujukan untuk memagari pergerakan suku bunga antarbank agar tidak berfluktuasi secara ekstrem.

"Fokus utama kami adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang agar suku bunga kebijakan tertransmisi dengan baik ke suku bunga pasar uang, tenor yang lebih panjang, perbankan, hingga ke inflasi. Transmisi ini bekerja baik bila jumlah likuiditas memadai, sebab jika kurang, volatilitasnya akan tinggi," ujar Erwin dalam diskusi media di kantor BI, Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Dalam menjalankan operasi moneter tersebut, BI telah menurunkan posisi outstanding instrumen SRBI secara bertahap dari level tertingginya. Penyesuaian ini ditempuh dengan mengubah frekuensi lelang yang semula digelar setiap pekan menjadi dua pekan sekali secara tertib dengan volume penerbitan yang disesuaikan terhadap kondisi likuiditas pasar.

Pelepasan likuiditas tersebut dilakukan dengan mengurangi penempatan dana perbankan yang selama ini terkunci pada instrumen tenor panjang. Strategi ini ditujukan mengalirkan kembali likuiditas segar ke instrumen-instrumen berjangka waktu lebih pendek.

"Dulu highest outstanding SRBI mencapai Rp1.070 triliun dan sekarang sudah jauh di bawah itu, di kisaran Rp900-an triliun bahkan di bawah Rp950 triliun. Kami merilis likuiditas dari SRBI sekitar Rp150 triliun ke tenor yang lebih pendek, serta menurunkan likuiditas yang tadinya banyak terkunci di tenor 6, 9, dan 12 bulan," kata Erwin.

Kendati volume penerbitan SRBI dikalibrasi, bank sentral tetap mempertahankan daya tarik instrumen berdenominasi rupiah tersebut bagi investor nonresiden melalui penguatan insentif lindung nilai valas, seperti swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). 

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement