Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gubernur BI Ungkap Alasan Kredit Nganggur Perbankan Tembus Rp2.548 Triliun

Anggie Ariesta , Jurnalis-Jum'at, 25 September 2026 |12:30 WIB
Gubernur BI Ungkap Alasan Kredit Nganggur Perbankan Tembus Rp2.548 Triliun
Bank Indonesia (Foto: Okezone)
A
A
A

Sementara dari sisi penawaran, appetite atau minat perbankan dalam menyalurkan kredit sempat tertahan oleh melandainya permintaan pasar. Alhasil, perbankan cenderung mengalokasikan likuiditasnya pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Nah, kita melihat memang banyak bank instead of, karena demand-nya juga kemarin masih agak lemah, instead of menyalurkan kredit, dia menempatkan pada surat-surat berharga, baik itu SBN ataupun SRBI," kata Destry.

Merespons kondisi tersebut, BI memberlakukan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) berbasis Pendalaman Pasar Uang (PPU) efektif mulai September 2026. Skema ini menerapkan mekanisme insentif dan disinsentif guna mendorong bank mengalihkan likuiditasnya dari surat berharga kembali ke penyaluran kredit riil.

Melalui skema ini, BI mengganti KLM interest rate channel sebesar 1 persen menjadi KLM PPU sebesar 2 persen. Perlakuan disinsentif dalam bentuk penyesuaian Giro Wajib Minimum (GWM) diberikan kepada bank yang mengalokasikan aset likuidnya secara berlebihan pada instrumen SBN dan SRBI non-repo rupiah di atas ambang batas 19 persen dari total pendanaan.

"Kenapa? Karena disitu kita akan melihat bank-bank yang terlalu banyak mengalokasikan aset liquid-nya dalam bentuk SSB, apakah itu SBN atau SRBI, itu kita akan memberikan disincentive, jadi dalam bentuk GWM-nya,” ungkap Destry.

Sebaliknya, bagi bank yang menjaga rasio kepemilikan SBN dan SRBI di bawah 19 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK) serta aktif menyalurkan kredit, BI memberikan stimulus berupa pengurangan kewajiban GWM hingga maksimal 6 persen dari DPK.

“Maka kita akan memberikan mereka insentif, yaitu penurunan GWM, sehingga akan terjadi penambahan likuiditas buat mereka, karena mereka juga menyalurkan kreditnya,” pungkas Destry.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement