JAKARTA - Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) ditutup total pada 6 hingga 8 September 2026 akibat sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Penutupan Bandara Soetta ini menjadi peristiwa bersejarah dalam operasional bandara terbesar di Indonesia tersebut.
Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) Agus Haryadi mengatakan, sepanjang pengalamannya bekerja di Bandara Soekarno-Hatta sejak 1992, belum pernah terjadi penutupan bandara secara keseluruhan.
"Sepanjang yang saya tahu, saya bekerja di Soekarno-Hatta dari tahun 92, artinya sudah 35 tahun, belum pernah mengalami penutupan bandara secara total," ujarnya dalam acara bersama Kementerian Perhubungan di Bandung, dikutip Jumat (2/10/2026).
Agus mengatakan, saat pandemi Covid-19 melanda selama kurang lebih 3 tahun itu bahkan bandara Soetta tidak mengalami penutupan total. Hanya ada pembatasan mobilitas dalam rangka meminimalisir penyebaran virus, sehingga bandara saat itu statusnya masih beroperasi melayani mobilitas masyarakat.
"Covid pun tidak tutup. Status bandara itu open. Kalau ini benar-benar close," katanya.
Agus menjelaskan, penutupan sebagian Bandara Soetta sebelumnya memang beberapa kali terjadi, misalnya ketika salah satu landasan pacu mengalami perbaikan atau gangguan. Namun, penutupan seluruh operasional bandara baru dilakukan dalam kejadian sebaran abu vulkanik tersebut.
Keputusan penutupan dilakukan setelah hasil pengujian menunjukkan adanya abu vulkanik yang berpotensi membahayakan penerbangan. Agus mengatakan, pihaknya tidak ingin mengambil risiko terhadap keselamatan penumpang dan awak pesawat.
"Setelah BMKG memastikan bahwa dari hasil paper test, hasil black glass ternyata positif, kita tidak mau mengambil risiko dan langsung kita lakukan penutupan," jelasnya.
Menurut Agus, penutupan bandara merupakan keputusan yang harus diambil meskipun konsekuensinya sangat besar terhadap operasional penerbangan dan penumpang.
"Tentu penutupan ini bukan opsi. Memang harus dilakukan. Tentu alasan pertamanya adalah alasan keselamatan, karena ini nyawa orang yang kita handle," ujarnya.
Peringatan mengenai ancaman abu vulkanik terhadap operasional Bandara Soetta sudah disuarakan sejak 5 September sore. Menurut dia, maskapai Pelita Air menjadi pihak yang paling awal mendorong rencana penutupan bandara demi alasan keselamatan.
Dampak penutupan tersebut pun sangat besar. Dalam kondisi normal, Bandara Soekarno-Hatta melayani sekitar 1.000 pergerakan pesawat dan sekitar 130 ribu penumpang per hari. Dengan sejumlah bandara lain ikut terdampak, termasuk Halim Perdanakusuma, Tanjung Karang, dan Bandung, Agus memperkirakan jumlah penumpang yang terdampak mencapai lebih dari 200 ribu orang.
Angkasa Pura kemudian mengaktifkan posko dan melakukan sejumlah langkah untuk menangani penumpang yang terdampak. Salah satunya dengan menyediakan bus untuk memobilisasi penumpang menuju bandara lain di Pulau Jawa, seperti Solo, Yogyakarta dan Surabaya.
"Kalau ngomong rugi, banyak ruginya. Rp40 miliar ada kali dalam dua hari itu. Tapi tentu kami tidak memikirkan itu," pungkas Agus.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.