Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

ESDM Ungkap Kesiapan soal Permintaan Listrik Diprediksi Melonjak 3 Kali Lipat di 2060

Taufik Fajar , Jurnalis-Rabu, 07 Oktober 2026 |14:32 WIB
ESDM Ungkap Kesiapan soal Permintaan Listrik Diprediksi Melonjak 3 Kali Lipat di 2060
ESDM soal Permintaan Listrik (Foto: Okezone)
A
A
A

Fase pertama pengembangan energi surya tersebut akan difokuskan pada pengurangan konsumsi diesel, khususnya di wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik konvensional. Pengembangan dilakukan antara lain melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap dan PLTS terapung.

Langkah tersebut disiapkan di tengah proyeksi meningkatnya kebutuhan listrik nasional dalam beberapa dekade mendatang. Berdasarkan penelitian Tenggara Strategics dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia bertajuk "Electrifying Indonesia: Driving demand for renewable energy", konsumsi listrik Indonesia diperkirakan meningkat dari 539 terawatt-hour (TWh) pada 2025 menjadi 1.813 TWh pada 2060.

Artinya, kebutuhan listrik nasional diproyeksikan melonjak lebih dari tiga kali lipat dalam kurun 35 tahun.

Lonjakan permintaan listrik tersebut dipicu berbagai sektor, mulai dari rumah tangga, kendaraan listrik (EV), hilirisasi industri, hingga pertumbuhan pusat data. Peningkatan kebutuhan listrik juga dipandang sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus bagian penting dalam mencapai target net zero emissions.

Sektor rumah tangga diproyeksikan menyumbang sekitar 28% dari total permintaan listrik pada 2060. Sementara kendaraan listrik diperkirakan berkontribusi sekitar 11%.

Untuk sektor rumah tangga, salah satu sumber tambahan kebutuhan listrik berasal dari rencana konversi kompor LPG ke kompor induksi atau kompor listrik. Jika program tersebut dijalankan secara penuh, tambahan permintaan listrik diperkirakan mencapai 27,62 GW hingga 53,43 GW, bergantung pada tingkat efisiensi kompor induksi yang digunakan.

Permintaan tersebut dinilai dapat menjadi basis kebutuhan listrik yang andal bagi pengembangan program energi surya 100 GWp.

Saat ini, sekitar 41,46% konsumsi energi rumah tangga masih berasal dari penggunaan LPG. Ketergantungan tersebut juga membuat Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan LPG nasional, yakni sekitar 77,6%.

Selain rumah tangga, elektrifikasi transportasi diproyeksikan menjadi salah satu penggerak utama permintaan listrik. Penggunaan kendaraan listrik juga dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.

Pada 2025, sekitar 23.660 kiloliter (KL), atau sekitar 65% konsumsi bensin nasional, masih harus dipenuhi melalui impor. Setiap tambahan 1 juta kendaraan listrik diperkirakan dapat menghemat sekitar 1.250 KL konsumsi bensin per tahun.

Pengembangan industri kendaraan listrik di dalam negeri juga disebut berpotensi menciptakan hingga 500.000 lapangan kerja baru.

Dari sektor industri, hilirisasi nikel diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 13,6 GW kapasitas pembangkit listrik captive berdasarkan RUPTL 2025-2034.

Sementara itu, pertumbuhan pusat data turut mendorong peningkatan kebutuhan listrik. Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan permintaan listrik dari pusat data terus meningkat seiring pertumbuhan industri digital.

"Permintaan listrik yang terus membesar dari data center, dari 640MW di awal tahun ini menjadi 1.7GW pada pertengahan tahun 2027," kata Hendra dalam diskusi IISF 2026.

Dia menambahkan, sekitar 30% anggota IDPRO menargetkan pencapaian net zero pada 2030. "Sehingga sektor data center Indonesia siap untuk mendukung pengadaan energi terbarukan melalui program seperti inisiatif energi surya 100GWp," ujarnya.

Direktur Eksekutif CSIS Indonesia Yose Rizal Damuri sebelumnya menyoroti besarnya peluang yang muncul dari meningkatnya elektrifikasi. Namun, pertumbuhan permintaan listrik tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan pasokan energi yang lebih hijau.

"Elektrifikasi" menjadi salah satu peluang penting bagi Indonesia, sekaligus membutuhkan kepastian bahwa peningkatan permintaan listrik dapat dipenuhi dengan energi yang lebih hijau, demikian disampaikan Yose dalam pembukaan IISF 2026.

Sementara itu, CEO Climate Group Helen Clarkson, OBE, mengatakan kebutuhan terhadap energi terbarukan juga semakin penting bagi perusahaan-perusahaan global yang beroperasi di Indonesia. Sekitar 35% anggota RE100 diketahui telah beroperasi di Indonesia.

Kondisi tersebut membuat kemampuan Indonesia menyediakan listrik hijau menjadi semakin strategis, seiring meningkatnya kebutuhan listrik nasional dan tuntutan perusahaan global terhadap penggunaan energi bersih.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement