"Sayangnya, tidak dalam waktu lama, ada urusan Moody's, Fitch yang kemudian outlook terhadap ekonomi kita dibuat satu notch lebih rendah. Kemudian Mr. Trump dengan segala kebijakannya menghadirkan peningkatan tensi geopolitik," jelas Hasan.
Hasan menegaskan tekanan terhadap IHSG tidak membuat OJK mengendurkan agenda reformasi struktural pasar modal. Menurutnya, penurunan indeks telah menjadi konsekuensi yang sejak awal sudah diperhitungkan.
OJK bersama seluruh pemangku kepentingan pasar modal justru akan menjadikan momentum tersebut sebagai dasar untuk membangun fondasi pasar yang lebih kuat.
"Kami tentu berkomitmen khusus untuk isu terkait pasar modal, rasanya boleh dipegang, kami tidak akan surut untuk terus mendorong tingkat maturity dan integritas pasar kita semakin baik ke depannya," tegas Hasan.
Dia menekankan reformasi struktural bukanlah kebijakan yang hanya dilakukan sekali. Reformasi membutuhkan konsistensi, keberanian dalam mengambil keputusan, serta kolaborasi seluruh pihak dalam ekosistem pasar modal.
"Structural reform is not one-time exercise. Ini butuh konsistensi, keberanian mengambil keputusan dan kolaborasi dari kita semua, seluruh pihak," tuturnya.
Hasan juga menilai koreksi pasar perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Menurut dia, rekor IHSG pada akhir 2025 hingga puncaknya pada pertengahan Januari 2026 belum tentu mencerminkan kondisi fundamental dan struktural pasar modal yang ideal. Sebab di balik rekor tertinggi IHSG tersebut ternyata masih terdapat persoalan struktural yang seharusnya dapat diantisipasi lebih cepat.
"Kita boleh menanyakan apakah all-time high tingkat indeks di pertengahan Januari 2026 memang tingkat wajar yang boleh kita nikmati pada saat itu atau justru sebaliknya," katanya.
OJK, lanjut Hasan, telah memperkirakan bahwa agenda reformasi akan memunculkan konsekuensi jangka pendek berupa tekanan terhadap pasar. Namun, reformasi tersebut dinilai penting untuk menciptakan pasar modal yang lebih kredibel, transparan, berintegritas, dan tahan terhadap berbagai guncangan.
Dia menegaskan, konsekuensi jangka pendek tersebut tidak boleh menggeser tujuan utama reformasi, yakni membangun fondasi pasar modal Indonesia yang lebih kuat dan berkelanjutan. Pengalaman tekanan pasar pada 2026 harus menjadi pembelajaran agar kondisi serupa tidak kembali terjadi.
"Kami meyakini hard lesson yang kita alami rasanya jangan pernah kita harapkan terulang kembali. Cukup sekali kemarin saja," pungkas Hasan.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.