Dengan dukungan personel dan peralatan yang disiagakan selama 24 jam sehari dan tujuh hari dalam sepekan, OSCT Indonesia menjaga kesiapan operasional untuk mendukung penanganan insiden di berbagai kawasan maritim, mulai dari pelabuhan hingga perairan lepas pantai.
Namun, penanggulangan tumpahan minyak tidak hanya bergantung pada ketersediaan peralatan dan personel. Koordinasi antarlembaga, kesiapan prosedur, serta kemampuan bekerja sama dalam situasi darurat menjadi faktor penting, terutama ketika pencemaran laut berpotensi melintasi batas wilayah negara.
Karena itu, keterlibatan OSCT Indonesia dalam Marpolex tidak sebatas dukungan operasional. Perusahaan tersebut tercatat berpartisipasi dalam setiap pelaksanaan Marine Pollution Exercise untuk menguji prosedur penanganan pencemaran, berbagi pengalaman.
Serta memperkuat koordinasi dengan otoritas maritim dan penjaga pantai di kawasan regional.
General Manager Pelindo Regional 4 Bitung, Capt James David Hukom, menjelaskan rangkaian itu dirancang untuk tiga jenis keadaan darurat sekaligus, kebakaran di kapal atau fasilitas pelabuhan, kecelakaan yang mengancam keselamatan jiwa dan pencemaran minyak.
"Skenario kegiatan ini nanti kurang lebih seperti itu. Jadi latihan ini sekaligus membuktikan peralatan kami benar-benar berfungsi, bukan pajangan,” ujar James dalam keterangan tertulisnya, Minggu (11/10/2026).
Kemampuan tersebut tidak terkunci di Bitung. Lewat Pelindo Emergency and Oil Spill Combat Team, paket peralatan dan personel terlatih siap dimobilisasi ke pelabuhan mana pun di Indonesia untuk keadaan darurat kebakaran, keselamatan, hingga penanggulangan pencemaran.
Dan di balik semua mesin itu, James menaruh perhatian paling besar pada manusia. "Target zero accident ditanamkan lewat drill rutin, bukan sekadar spanduk di dinding," pungkasnya.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.