Indonesia memiliki potensi geologi migas yang besar, tetapi pengembangannya masih membutuhkan percepatan. Dari 128 cekungan sedimen yang teridentifikasi, baru 20 cekungan yang telah dikembangkan secara komersial. Selain itu, terdapat 279 struktur temuan migas yang belum dikembangkan dan masih menunggu keputusan investasi.
Hal yang menjadi latar belakang penyelenggaraan FOREK adalah produksi minyak nasional masih di bawah target APBN 2026. Melalui FOREK 2026 diharapkan potensi yang ada bisa diubah menjadi produksi dengan mendorong percepatan investasi yang di tahun 2026 ditargetkan mencapai USD16 miliar agar produksi minyak dapat terus ditingkatkan untuk mencapai target tahun ini.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketahanan energi tidak cukup hanya melalui peningkatan kegiatan eksplorasi. Diperlukan kesinambungan dari penemuan sumber daya, keputusan investasi, pengembangan fasilitas produksi, hingga penyerapan hasil produksi di pasar domestik.
Karena itu, kepastian keekonomian proyek, efektivitas perizinan, kesiapan infrastruktur, dan kepastian komersialisasi menjadi bagian penting dalam mempercepat pengembangan potensi migas Indonesia.
Sementara, Ketua Organizing Committee FOREK Hulu Migas 2026 Nyimas Fauziah Rikani mengatakan, forum ini hadir di tengah tantangan industri hulu migas yang semakin kompleks. Menurut dia, diskusi formal saja tidak cukup untuk menjawab persoalan yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.
“FOREK Hulu Migas hadir di tengah tantangan industri hulu migas saat ini. Kami menyadari bahwa untuk menjawab tantangan tersebut, diskusi formal saja tidak cukup. Diperlukan wadah kolaborasi yang mempertemukan berbagai pihak untuk duduk bersama, membangun perspektif yang sama, dan menghasilkan solusi konkret yang bisa ditindaklanjuti,” ujar Nyimas.
Dia menjelaskan, FOREK Hulu Migas 2026 akan berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan sekitar 50 narasumber yang terbagi dalam tiga sesi pleno. Jumlah partisipan yang telah mencapai sekitar 1.100 orang juga melampaui estimasi awal sebanyak 750 peserta.
Antusiasme tersebut mencerminkan besarnya perhatian terhadap berbagai isu keuangan, komersial, dan tata kelola yang memengaruhi keputusan investasi serta pengembangan industri hulu migas.
Penyelenggara berharap forum ini dapat dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi/Menteri Energi dan sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia serta dihadiri Menteri Keuangan, Suahasil Nazara. Kehadiran para pemangku kebijakan diharapkan memperkuat dialog lintas sektor dalam merumuskan solusi untuk meningkatkan daya saing investasi hulu migas Indonesia.
Sekadar informasi, Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersial Hulu Minyak dan Gas Bumi (FOREK Hulu Migas) 2026 akan diselenggarakan pada 28-29 Oktober 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta. Forum ini menjadi wadah kolaborasi bagi pemerintah, regulator, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), investor, lembaga pembiayaan, dan pemangku kepentingan lainnya untuk merumuskan solusi dalam memperkuat iklim investasi serta meningkatkan produksi migas nasional.
Melalui diskusi strategis dan pertukaran pandangan antar pakar serta pemangku kepentingan, forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang konkret dan implementatif untuk memperkuat kebijakan serta menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif.