Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ini Cara RI Perkuat Investasi Hulu Migas demi Produksi dan Ketahanan Energi

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Selasa, 20 Oktober 2026 |21:51 WIB
Ini Cara RI Perkuat Investasi Hulu Migas demi Produksi dan Ketahanan Energi
Ini Cara RI Perkuat Investasi Hulu Migas demi Produksi dan Ketahanan Energi (Foto: PHE)
A
A
A

JAKARTA - Penguatan iklim investasi, harmonisasi kebijakan fiskal dan percepatan komersialisasi menjadi faktor penting dalam mengubah potensi minyak dan gas bumi (migas) Indonesia menjadi produksi nyata. Upaya tersebut semakin mendesak di tengah kesenjangan antara kebutuhan energi nasional dan kemampuan produksi domestik.

Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Desti Melanti menegaskan pentingnya membangun wadah komunikasi dan kolaborasi untuk merespons berbagai tantangan industri hulu migas.

“Kami mendorong pembangunan wadah komunikasi, sinergi, dan kolaborasi untuk merespons berbagai tantangan industri hulu migas, seperti IPA bagi pelaku usaha hulu migas,” ujar Desti dalam konferensi pers FOREK Hulu Migas 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Menurut Desti, peningkatan produksi atau lifting migas dan pencapaian target nasional merupakan mandat yang harus dikawal bersama. Karena itu, kepastian hukum, iklim investasi yang kondusif, serta kebijakan fiskal yang kompetitif menjadi faktor penting untuk mendorong investor terus melakukan eksplorasi dan menemukan cadangan baru.

Dia menambahkan, pengembangan industri hulu migas membutuhkan pendekatan yang adaptif, termasuk melalui penguatan skema pembiayaan dan sinergi antar pemangku kepentingan.

“Bagaimana mengubah potensi menjadi produksi merupakan pertanyaan penting yang harus kita jawab bersama. Kami berharap FOREK dapat terlaksana dengan baik dan menghasilkan solusi yang mendukung pencapaian target nasional,” katanya.

Forek Hulu Migas

Investasi Besar untuk Menjawab Kesenjangan Energi

Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Bayu Kusuma Dewanto mengatakan, penguatan ketahanan energi Indonesia membutuhkan komitmen dan kerja sama seluruh pemangku kepentingan. Pasalnya, kebutuhan energi nasional masih jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksi domestik. Kebutuhan minyak Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta brrel per hari, sedangkan produksi nasional masih di atas 600.000 barel per hari. 

“Kalau bicara angka hari ini, kebutuhan minyak kita itu sekitar 1,6 juta barrel per hari. Sedangkan produksi minyak kita ada di atas 600.000. Jadi ada kesenjangan yang cukup besar dari apa yang dibutuhkan oleh Indonesia dan apa yang bisa kita produksi,” ujar Bayu.

Menurut Bayu, Indonesia memiliki potensi migas yang besar, tetapi sebagian masih menunggu untuk dikembangkan. Realisasi potensi tersebut membutuhkan investasi besar, teknologi, dukungan pembiayaan, serta koordinasi lintas sektor.

“Komitmen kami sebagai pelaku usaha hulu migas adalah bekerja sama mencari solusi untuk ketahanan energi Indonesia. Kita memiliki potensi besar, tetapi sebagian masih menunggu untuk dikembangkan. Ini tidak mudah dan tidak murah, sehingga perlu kita pecahkan bersama,” ujar Bayu.

Dia menjelaskan, investasi hulu migas memiliki karakteristik jangka panjang. Sejak tahap eksplorasi hingga minyak dapat diproduksikan, suatu proyek dapat membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh tahun, bergantung pada karakteristik lapangan, kompleksitas pengembangan, dan kesiapan infrastruktur.

Di sisi lain, banyak lapangan migas Indonesia telah memasuki fase matang dan menghadapi penurunan produksi alamiah. Kondisi tersebut menuntut investasi baru untuk menemukan cadangan, mengembangkan lapangan, serta menjaga keberlanjutan produksi dari aset yang telah beroperasi.

Bayu menegaskan, kebutuhan investasi yang besar tidak dapat dipenuhi oleh satu perusahaan atau institusi saja. Dukungan pemerintah, SKK Migas, perbankan, investor, dan mitra strategis lainnya diperlukan untuk memastikan proyek dapat dikembangkan dengan skema pembiayaan yang tepat dan risiko yang terkelola.

Selain pembiayaan, pengembangan proyek hulu migas juga menghadapi berbagai tantangan teknis dan operasional yang membutuhkan perencanaan matang serta kepastian aspek pendukung agar dapat bekerja secara optimal. 

“Investasi ini sangat kompleks. Kita tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Dibutuhkan dukungan luar biasa, terutama dari SKK Migas, pemerintah, perbankan, investor, dan seluruh pihak terkait. Kami berharap melalui forum ini, solusi atas tantangan industri hulu migas dapat ditemukan bersama,” kata Bayu.

Menurut dia, investasi yang dilakukan harus mampu memberikan manfaat nyata bagi Indonesia, baik melalui peningkatan produksi, penguatan pasokan energi domestik, maupun kontribusi terhadap penerimaan negara.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement