"Bagi Indonesia, pelemahan Rupiah yang berkelanjutan dapat meningkatkan biaya barang impor dan input produksi di dalam negeri sehingga berpotensi menambah tekanan inflasi," jelas Riefky.
Tekanan atas nilai tukar rupiah juga diperberat oleh ketidakpastian arah kebijakan bank sentral AS (The Fed) serta menyempitnya selisih imbal hasil (yield spread) antara Surat Berharga Negara (SBN) dan US Treasury, yang mengikis tingkat daya tarik aset domestik bagi investor global.
Rupiah tercatat terdepresiasi 8,3 persen sejak awal tahun hingga pertengahan Oktober 2026. Pada 14 Oktober 2026, nilai tukar berada di posisi Rp17.895 per dolar AS, melemah 1,22 persen dari level Rp17.680 per dolar AS pada 15 September 2026.
Dari sisi aliran modal portofolio, pasar keuangan domestik membukukan arus keluar bersih (net outflow) sebesar USD50 juta sepanjang pertengahan September hingga pertengahan Oktober 2026.
Meski pasar SBN mencatatkan arus masuk (inflow) sebesar USD690 juta, pasar saham justru mengalami pelepasan modal (outflow) mencapai USD730 juta.
Dinamika pasar saham ini kian tertekan pasca usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengkaji potensi penyesuaian status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, dengan tenggat konsultasi hingga 30 April 2027 dan keputusan final pada 30 Juni 2027.
"Tekanan-tekanan yang saling bertentangan ini menuntut sikap moneter yang hati-hati, di mana Bank Indonesia perlu mempertimbangkan risiko depresiasi Rupiah lebih lanjut dan kenaikan inflasi terhadap kebutuhan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi," pungkas Riefky.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.