"Bagi ibu-ibu yang rutin memasak, program ini sangat bermanfaat. Minyak yang tadinya dibuang atau berbahaya kalau dipakai berulang kali, sekarang dikumpulkan dan disetorkan ke koperasi. Minyak jelantah yang dulu tidak bermanfaat kini jadi rupiah dan membawa berkah," tutur Yati.
Nilai ekonomi minyak jelantah juga terlihat dari aktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner. Ketua Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Desa Dawuhan, Suparjo, mengatakan pelaku usaha kuliner di wilayahnya mampu mengumpulkan minyak jelantah dalam jumlah lebih besar dibandingkan rumah tangga.
"Respons masyarakat sangat baik. Untuk tingkat rumah tangga, warga mampu mengumpulkan lebih dari setengah liter per minggu. Sementara dari pelaku UMKM kuliner dan gorengan di sekitar desa, ada yang mampu menyetorkan 10, 20, hingga 25 liter minyak jelantah dalam seminggu," jelas Suparjo.
Minyak jelantah yang terkumpul selanjutnya dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, seperti bahan bakar ramah lingkungan, termasuk bioavtur dan bensin hijau (green gasoline).
Pemanfaatan tersebut menjadi salah satu bentuk ekonomi sirkular, yakni mengolah limbah menjadi bahan baku atau produk baru yang memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, minyak jelantah tidak hanya berpotensi menambah pendapatan masyarakat, tetapi juga dapat mengurangi limbah yang mencemari lingkungan.
Meski demikian, masyarakat perlu memastikan minyak jelantah dikumpulkan dan disalurkan melalui pengelola yang tepat. Minyak bekas memasak sebaiknya tidak dibuang ke saluran air, tanah, maupun lingkungan sekitar karena dapat menimbulkan pencemaran.