Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pelajaran Ketamakan dan Sejarah

Pelajaran Ketamakan dan Sejarah
Yen masih dalam gulungan kerta (foto: image)
A
A
A

"Sekolah harus bisa melampaui fungsi dari hanya sekadar sebagai mesin pencetak uang," ujar Hsuan Owyang.

Saat ditanya apa pelajaran dari krisis ekonomi yang saat ini terjadi, Hsuan Owyang menjawab tanpa ragu,"Itulah yang selalu dilupakan orang. Banyak hal dalam krisis ini bukan sesuatu yang baru." "Jika mempelajari pelajaran dengan baik, Anda dapat menghindari perangkap," kata Owyang yang telah 25 tahun memimpin Badan Penasihat National University of Singapore Business School (NUS BIZ) serta mendapat penghormatan dalam sebuah acara makan malam Jumat (12/12/2008) kemarin.

Salah satu nasihat penting Owyang pada NUS BIZ saat meletakkan jabatan dari Badan Penasihat ialah agar semua orang memperhatikan sejarah secara serius. "Banyak sekali eksekutif kita yang tidak mendapat manfaat dari apa yang telah diajarkan sejarah," ujarnya.

Lelaki berusia 80 tahun itu menekankan bahwa belajar dari sejarah itu tidak berarti mencari solusi masa lalu untuk menyelesaikan masalah saat ini. "Ini tentang me-mahami tabiat manusia dengan lebih baik.Sifat manusia yang sering kali tamak, takut, dan tidak ingin berubah, selalu ada, dan manusia selalu bertindak sesuai kondisi yang tidak berubah,"tutur Owyang.

Owyang menekankan bahwa bisnis pendidikan tidak boleh hanya terfokus untuk menghasilkan uang. "Bisnis pendidikan harus bisa melampaui tujuan semata sebagai mesin pencetak uang," katanya sambil menggeleng.

Salah satu kemajuan penting yang dibuatnya sebagai chairman NUS BIZ kala itu ialah memperkenalkan mata kuliah pilihan humaniora, seperti psikologi, ilmu politik, dan sejarah bisnis, dalam kurikulum universitas.

"Pendidikan dalam segala bentuknya harus bertujuan menciptakan manusia dengan perilaku kemanusiaan yang lebih baik, dan saya pikir bisnis pendidikan harus memberikan berbagai perangkat pada manusia. Bukan hanya untuk kesejahteraan hidup diri sendiri, melainkan juga untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik,"paparnya.

Owyang, yang tiba di Singapura dari Amerika Serikat (AS) 43 tahun silam dan menjabat sebagai chairman Badan Perumahan dan Pembangunan Singapura (HDB), merasa bangga telah menjadi bagian dalam proses penting bangkitnya Singapura sebagai bangsa yang kuat.

Pada 1983, saat Singapura berupaya membangun pelabuhan perdagangan dan mengembangkan industri, Owyang melihat peluang bahwa sangat penting bagi sekolah bisnis untuk meluluskan sarjana dengan kemampuan mengelola bisnis.

"Namun,pendekatan para profesor masih teoretis atau akademis, dan sebagian dari profesor itu tidak pernah bekerja di dunia nyata. Karena itu,jelas sangat penting membuat pendidikan bisnis yang lebih sesuai dengan dunia praktis," ujar Owyang yang bekerja di sektor perbankan selama 12 tahun di Wall Street.

Dicari: Pemikir Independen dan Etis


Hal lain yang dia inginkan ialah mendorong pemikiran independen. "Anda harus mampu memisahkan antara fakta dan opini serta menghindari insting berkumpul dan membuat sikap menghakimi," kata Owyang. "Orangmengatakan â€~harga perumahan selalu naik' ini merupakan opini.Namun,terlalu banyak orang yang tidak berusaha mengetahui apa yangsedangterjadi,itufakta," papar Owyang.

"Ini bukan sebuah pertanyaan tentang pendidikan bisnis, ini presentasi (keterampilan dasar). Ini tentang bagaimana Anda mengajari seseorang untuk menciptakan sesuatu," imbuhnya. Namun, sejauh mana sekolah- sekolah itu dapat menciptakan orang yang berpikir untuk diri mereka sendiri dan belajar dari masa lalu untuk membuat putusan penting? Owyang menyadari bahwa "banyak" sekali pilihan personal dalam hidup.

"Di Amerika, merekamenyebuthariwisuda sebagai commencement ataupermulaan, karenapendidikan ini hanya awal,"ujarnya. "Saya akan menceritakan salah satu lelucon favorit saya. Di gedung bank lantai 52 ini, Anda memiliki seseorang yang tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan.

Dan di lantai dasar, Anda mendapatkan semua pelatihantentangdasar- dasarkeuangan," kata Owyang. Namun, orang-orang yang dididik di lantai dasar tidak belajar untuk melakukan apa yang dikerjakan orang yang ada di lantai 52, misalnya, memberi pinjaman pada orang yang tidak mampu membayarnya kembali.

Orang yang ada di lantai atas dapat melakukan apa yang harus dilakukan secara tepat. "Orang di lantai 52 telah mempelajari semua yang dipelajari di lantai dasar, 20 tahun silam.Seiring waktu, dia telah melupakan semuanya," tutur Owyang. (*)

Lin Yanqin
[email protected]

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement