JAKARTA - Porsi penggunaan bahan bakar geothermal (panas bumi) dalam proyek percepatan 10 ribu MW tahap II akan lebih mendominasi ketimbang penggunaan batu bara.
"Komposisi panas bumi akan lebih dimaksimalkan. Sejumlah pembangkit berbahan bakar batu bara akan diubah menjadi pembangkit berenergi panas bumi," ujar Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) J Purwono di Kantor Departemen ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (26/10/2009).
Saat ini peraturan presiden yang menjadi payung hukum masih dipersiapkan untuk segera ditandatangani presiden. Pembahasan tersebut sudah selesai dibahas Departemen ESDM dan tinggal disinkronisasikan dengan departemen lain.
"Drafnya sudah kita sampaikan ke Menko Perekonomian dan harapannya segera dibahas finalisasi keppres tersebut dan bisa diserahkan kepada Setneg," tambahnya.
Dalam proyek 10 ribu MW tahap kedua tersebut rencananya porsi panas bumi akan mencapai 48 persen (4.733 MW), sementara lainnya yaitu tenaga air sebesar 12 persen (1.174 MW), batu bara 26 persen (2.616 MW), dan gas 14 persen (1.140 MW).Â
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.