JAKARTA - Pemerintah segera membahas permintaan sejumlah asosiasi yang meminta penundaan pelaksanaan perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) ASEAN-China 1 Januari 2010.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu mengatakan,para menteri terkait akan mengkaji apa saja alasan yang disampaikan asosiasi industri. Persoalannya hanya masalah bea masuk (BM) yang selama ini muncul di permukaan. "Ada yang menghendaki BM diturunkan atau dinaikkan. Dan belum tentu masalahnya ada pada BM, tetapi kita lihat dulu deh," kata dia di Jakarta kemarin. Menurutnya, apa yang terjadi pada satu industri akan berpengaruh kepada seluruh industri. Adapun para menteri terkait direncanakan melakukan rapat pada Jumat (11/12) mendatang.
"Apakah BM menjadi sumber masalah, kan belum tentu.Siapa tahu listrik di mana suplai energi tidak teratur, suplai bahan baku tidak teratur, tenaga kerja mahal," kata Anggito. Mengenai renegosiasi FTA ASEAN-China, dia mengatakan, posisi Indonesia cukup sulit karena sebagai peminta bukan pemberi. "Kalau dalam posisi memberi,kita punya bargaining position yang lebih tinggi,"ujar dia. Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Departemen Perdagangan Gusmardi Bustami mengatakan, pihaknya masih melakukan kajian atas permintaan dari masing-masing asosiasi. "Kita melihat dulu kondisi sebenarnya.
Tidak bisa dengan cara yang tidak hati-hati.Jadi,Depperin akan mengumpulkan semua yang menjadi masalahnya lalu kami akan lakukan pembahasan mengenai tarif. Ini adalah keputusan dari pemerintah bukan Departemen Perdagangan. Hasilnya akan ada sebelum Januari 2010," kata Gusmardi. Gusmardi mengatakan, masih terdapat alternatif yang bisa dipilih para asosiasi apabila FTA ASEAN-China tetap diimplementasikan tahun depan. Hal inilah, kata dia, yang juga perlu dikaji sehingga dapat menghasilkan keputusan yang tepat.
"Di dalam perjanjian itu kan ada pagar-pagarnya. Pagar mana yang mau kita pakai, modifikasi, safeguard measures, dan instrumen lainnya. Ada pilihan-pilihan yang bisa dipilih walaupun FTA tetap diimplementasikan,"kata dia. Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan,masing-masing asosiasi menyampaikan persoalan yang dihadapinya saat ini. Dia mencontohkan, industri plastik yang meminta agar kebijakan yang dihasilkan tidak mengganggu industri hilir.Menurutnya, masalah tarif memang perlu diperhitungkan tetapi bukan merupakan faktor dominan dalam pertimbangan FTA.
"Yang penting justru membuat regulasi agar daya saing sektor-sektor tersebut meningkat,"jelas Hidayat. Hidayat menjelaskan, hasil dari pembahasan akan diberikan kepada Menteri Perekonomian lalu dikonsultasikan dengan presiden." Kemudian negosiator akan membicarakannya di tingkat ASEAN,"kata dia. Hidayat menambahkan, pembicaraan di ASEAN tidak akan membahas soal kompensasi terlebih dahulu. "Berunding tentang timbal balik (kompensasi) itu nanti bisa.Tetapi, perundingan itu bisa memakan waktu tiga sampai enam bulan,"jelas Hidayat. Ketua Umum Asosiasi Mebel Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono mengatakan, pihaknya tidak siap untuk mengikuti FTA ASEANChina.
"Memang enggak siap. Sekarang saja kita dicurangi China. Kalau FTA jadi diimplementasikan, wah berat. Sekarang kita bayangkan, China menjadi negara eksportir furnitur nomor satu di dunia, Indonesia berada di nomor sembilan atau 12,"kata dia. Namun,Ambar tetap optimistis bahwa industri mebel Indonesia bisa terus berkembang tahun depan. "Potensi pertumbuhan bisa mencapai 10% pada tahun depan. Saya belajar banyak dari Vietnam, mereka bisa naik 30 hingga 40 persen.
Asmindo harus bekerja keras.Kita jangan tergantung pada pemerintah karena mereka kurang peduli,"pungkasnya. (sandra karina)
(Candra Setya Santoso)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.