ilustrasi. foto: corbis
JAKARTA - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyebutkan pada semester I-2010 ini laba bersih BUMN tercatat tumbuh 20 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu (year on year/yoy).
Menurut Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu, pertumbuhan laba ini dipicu dari pertumbuhan kredit BUMN sektor perbankan dan jasa keuangan. Kendati demikian, dia mengatakan penghitungan pertumbuhan laba tersebut belum termasuk PT Pertamina dan PT PLN.
"Dari data 66 BUMN yang sudah masuk, yoy, belum termasuk Pertamina dan PLN, BUMN tumbuh 20 persen. BUMN yang untung itu sektor bank dan jasa keuangan, asuransi, dan perkebunan, pertumbuhan kredit cukup tinggi. Mereka mulai penyelesaian kredit-kredit bermasalah, penyebabnya investasi di bidang itu lagi tinggi," jelas Said saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (30/7/2010).
Dia mengatakan, sebesar 35 persen dari target laba bersih BUMN disumbang dari Pertamina dan PLN. Pada kuartal I 2010 menurutnya laba bersih BUMN, termasuk Pertamina, telah tumbuh lebih dari 10 persen, sehingga pemerintah pun optimis meraih target laba bersih pada tahun ini sebesar Rp94 triliun.
Namun demikian, dia mengaku belum bisa memastikan kinerja optimal Pertamina sebagai pencetak laba bersih BUMN terbesar. Pasalnya, keuangan perseroan itu bergantung pada perkembangan harga minyak dunia.
“Angka ICP (Indonesia Crude Price/ harga minyak mentah Indonesia) per kuartal I masih mendukung Pertamina untuk merealisasikan keuntungan di atas target. Tapi untuk kuartal II, saya belum bisa pastikan bagaimana kondisi Pertamina dengan tingkat ICP yang cenderung turun,” ungkapnya.
Menurutnya, Pertamina akan sulit memenuhi target laba optimal karena dibebani biaya gas yang cenderung murah dan penghitungan BBM bersubsidi (PSO) yang kurang benar oleh pemerintah. Sementara di sisi lain, lanjutnya, Pertamina juga dibebankan dividen.
"Masalah gas sekarang butuh biaya lagi, pemerintah seakan-akan membebankan kepada Pertamina. Sementara Pertamina ada beban dividen. Kalau Pertamina masih selalu dibebani oleh tugas-tugas pemerintah tanpa perhitungan PSO yang benar, maka Pertamina susah berkembang," jelasnya.
Sementara untuk sektor telekomunikasi dikatakannya tidak memperlihatkan adanya penaikan. Menurutnya, hal ini dikarenakan beban yang ditanggungkan pada semester I ini. Kendati demikian dia optimis akan ada perbaikan dari BUMN sektor telekomunikasi ini pada semester II mendatang.
"Untuk semester ini, BUMN sektor telekomunikasi masih flat (datar), tapi di semester ada II kemungkinan akan naik lagi," tukasnya. (ade)