Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BI Rate Stabil, Investor Bakal Tetap Pegang Rupiah

Martin Bagya Kertiyasa , Jurnalis-Jum'at, 24 Desember 2010 |14:14 WIB
BI Rate Stabil, Investor Bakal Tetap Pegang Rupiah
Rupiah. Foto: Ade/okezone
A
A
A

JAKARTA - Pengamat ekonomi Farial Anwar membantah bila ketakutan akan ada perpindahan investasi dalam bentuk rupiah ke dolar, jika investor tetap mempertahankan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate).

"Saya belum lihat adanya guncangan. Yang ditakutkan orang pindah investasi dari rupiah ke dolar karena bunganya negatif. Itu enggak akan terjadi, karena sekarang lagi ada arus masuk," ungkapnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya tidak mungkin investor akan memindahkan investasi mereka dari rupiah ke dolar karena bunga dolar yang masih kecil yakni sekira 0,25 persen (suku bunga The Fed).

"Yang ditakutkan BI nanti kalau BI rate lebih rendah dari inflasi ada perpindahan investasi dari rupiah ke dolar. Itu enggak akan terjadi, karena saat ini dolar bunganya hanya 0,25 persen," paparnya.

Adapun perpindahan investasi ini baru akan terjadi jika suku bunga The Fed naik lagi. Namun hal tersebut belum akan terjadi karena hal ini telah membuat kekacauan ekonomi di Amerika Serikat (AS) tahun 2008.

"Jika suku bunga The Fed naik lagi jadi lima persen misalnya, mungkin orang akan konversi ke dolar. Tapi itu belum akan terjadi. Kenapa AS kacau di 2008? Karena dolar (suku bunga) naik dari satu persen menjadi lima persen, akibatnya orang yang tadinya bayar satu persen naik lima kali lipat ya orang jadinya enggak mau bayar," tambahnya.

Dia menilai, sebenarnnya ada instrumen untuk menjaga agar perpindahan tersebut tidak terjadi. Yakni dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM), penarikan dana-dana ekses likuiditas di pasar yang dikendalikan oleh BI. "Jadi menaikkan GWM supaya orang tidak mengkonversi uangnya dari rupiah ke dolar," imbuhnya.

Dia juga menambhkan Indonesa akan menjadi negara paling mahal pendanaannya jika memang BI rate dinaikkan. "Negara kita enggak kompetitif, negara lain bunganya sudah di bawah lima persen, kalau kita naik lagi, akhirnya jika dibandingkan di Asia, kita jadi negara yang paling mahal pendanaannya," pungkasnya.

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement