Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Daya Saing, Kunci Akselerasi Ekonomi

Wisnoe Moerti , Jurnalis-Kamis, 26 Mei 2011 |15:28 WIB
Daya Saing, Kunci Akselerasi Ekonomi
Ilustrasi
A
A
A

JAKARTA - Peningkatan daya saing diyakini sebagai salah satu kunci mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Upaya membangkitkan daya saing agar makin kompetitif, perlu kerja sama lintas sektoral.

Salah satu fokus perhatian dari kalangan pengusaha dan akademisi menyikapi kondisi perekonomian nasional dan perekonomian global adalah daya saing Indonesia yang mulai membaik dan perlu terus ditingkatkan. Indonesia memiliki banyak potensi untuk meningkatkan daya saing perekonomian nasional diantara perekonomian negara maju. Laporan Global Competiveness Index menyebutkan, sepanjang 2010-2011 indeks daya saing Indonesia melonjak 10 tingkat dengan skor 4,43 dibanding pada periode 2009-2010. Posisi ini lebih baik ketimbang peringkat sejumlah negara Asia seperti India dan Vietnam, bahkan Italia dan Eropa.

Ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa mengatakan, upaya memperkuat daya saing, pada hakekatnya dengan strategi efisiensi biaya produksi (cost production). “Bagaimana kita menekan biaya produksi agar tidak terlalu besar. Daya saing juga bagaimana agar tidak ekonomi biaya tinggi,” ungkap Erwin usai konfrensi pers persiapan Indonesia Young Leaders 2011 di Jakarta, Kamis (26/5/2011).

Dia mengatakan, ditengah iklim globalisasi dan perdagangan bebas, sangat penting untuk menjaga sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Pasalnya, ekspansi ekonomi yang dilakukan negara lain, akan semakin besar. Pemerintah dan kalangan pelaku usaha dalam negeri, memerlukan strategi yang baik untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Kerjasama antara pemerintah dan pengusaha, harus dipandang sebagai mitra.

Selain itu, lanjut dia, yang tidak kalah penting dalam kerangka membangkitkan daya saing adalah memaksimalkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. “Kualitas SDM perlu dibangun agar SDM yang tersedia benar-benar trampil. Sehingga, perlunya kerjasama antara pengusaha, pemerintah dan kalangan akademisi untuk mempersiapkan itu,” tegas Erwin.

Dekan fakultas ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah menambahkan, selain efisiensi dalam biaya produksi, penguatan daya saing juga harus dilakukan melalui optimalisasi produktifitas dalam negeri. Peningkatan tersebut tidak hanya kuantitasnya, tapi utamanya pada sisi kualitasnya. Menurutnya, peningkatakn produktifitas merupakan salah satu tolak ukur dan indicator daya saing. “Bagaimana kita meningkatkan output barang dan jasa yang dihasilkan agar tidak kalah kualitasnya dengan barang produksi dari negara lain,” ujar Firmanzah ditempat yang sama.

Menurutnya, peningkatan daya saing membutuhkan kerjasama lintas sektoral. Dengan kata lain, fokus perhatian bersama untuk meningkatkan daya saing juga perlu dibangun hingga ke pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Firmanzah menilai, hal tersebut merupakan tantangan sekaligus pekerjaan rumah yang cukup besar. “peningkatan daya saing adalah tantangan untuk mengakselerasi ekonomi kita,” tambahnya.

Guru besar termuda UI ini mengingatkan agar melibatkan kalangan wirausaha dan UMKM. Pasalnya, dengan kontribusi UMKM sebesar 80-90 persen menopang perekonomian nasional, potensi pertumbuhan dan perkembangan kewirausahawan dan UMKM sangat besar. Basis pemberdayaan bisnis dan UMKM dapat diterapkan secara empiric dan terintegrasi dengan kalangan akademisi. Selain itu, dari sisi SDM, dia melihat, Indonesia memiliki potensi mengembangkan daya saing dengan dorongan dari kemampuan pemimpin muda.

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement