JAKARTA - Badan Urusan Logistik (Bulog) memiliki pasokan uang yang berlebih untuk membeli kebutuhan beras nasional, kesulitan yang dihadapi justru berasal dari pasokan beras yang tidak tersedia.
"Sekarang bukan karena kurang dana, tapi kurang beras untuk dibeli, uangnya kelebihan, berasnya kurang," ungkap Menteri BUMN Mustafa Abubakar, yang juga mantan kepala Bulog periode 2007-2009 di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (26/5/2011).
"Harga kemarin tempo hari tinggi jadi belum bisa menyerap seperti yang kita harapkan. Sekarang, dana sudah ditambah pemerintah fleksibilitas diberikan ke Bulog, walaupun harga lebih tinggi dari HPP dibolehkan asal ada referensi yang kuat bahwa harga itu bisa masuk. Jadi bukan karena dana tapi karena persediaan berasnya," tambahnya lagi.
Dirinya juga memastikan, saat dulu dirinya menjabat sebagai ketua Bulog dipastikan jika kendali mengenai impor beras berada di tangan Bulog sepenuhnya. "Saya pernah pimpin Bulog langsung dengan pangan khususnya beras, sepenuhnya kita kendalikan. Waktu saya di Bulog 1,3 juta ton impor beras, satu tahun saya kencangkan langsung zero impor, tahun kedua belajar ekspor. Apa artinya? Kendali pada kita sepenuhnya," terangnya.
Terakhir, untuk membuat semua itu menjadi teratur dan seimbang memang diperlukan adanya sinergi yang baik antara lembaga terkait. "Sekarang yang diperlukan adalah direksi manajemen yang harus kencang, dan kerja sama antar lembaga harus sinergis, ini yang saya lihat masih belum maksimal," pungkasnya.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.