Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Firmanzah menilai, terlambatnya operasional proyek listrik juga bisa berdampak bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Perekonomian diperkirakan kurang optimal dan sulit terakselerasi tanpa ketersediaan pasokan energi yang memadai. Sektor energi dipandang sebagai sektor yang menjadi inti dari pengembangan ekonomi di suatu negara, termasuk Indonesia.
Dampak nyatanya, kata dia, bisa terlihat dari pertumbuhan pada sektor industri yang bisa terkoreksi dan dimungkinkan terjadi penurunan jumlah produksi. Selain itu, mundurnya operasional proyek listrik 10.000 MW juga dimungkinkan menurunkan produksi ekspor nasional yang menjadi pendorong dari tingginya pertumbuhan.
Menurutnya, pemerintah harus segera memberikan dorongan atau stimulus bagi para dunia usaha agar dapat bertahan ditengah kurangnya pasokan energi.
“Misalnya dengan insentif pajak. Uang yang tidak dibayar untuk pajak bisa digunakan swasta untuk membelikan pembangkit diesel untuk mereka melakukan produksinya,” jelas Firmanzah, di Jakarta, Senin (30/5/2011).
Direktur Perencanaan Makro Kementerian PPN/Bappenas Bambang Prijambodo memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, dampak tertundanya proyek listrik tidak terlalu besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Dia menuturkan, terlambatnya operasional proyek listrik 10.000 MW sudah diprediksi oleh pemerintah jauh-jauh hari, sebab dalam proyeksi pemerintah ada beberapa penghambat yang akan dihadapi tahun ini seperti kendala teknis dalam pendanaan dan lain-lain.
Namun, dia tidak membantah bahwa tertundanya operasional proyek listrik dimungkinkan mengganggu kecepatan investasi masuk ke Indonesia. “Tapi tidak akan terlalu besar,” kata Bambang. (Wisnoe Moerti/Koran SI/ade)