Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Djakarta Lyods, Perusahaan Pelayaran yang Tak Punya Kapal

R Ghita Intan Permatasari , Jurnalis-Kamis, 24 November 2011 |18:19 WIB
Djakarta Lyods, Perusahaan Pelayaran yang Tak Punya Kapal
Ilustrasi.
A
A
A

JAKARTA - Kondisi PT Djakarta Llyods (DL) saat ini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Perusahaan pelayaran pelat merah tersebut, saat ini tidak memiliki armada sama sekali.

Mengutip bahan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Deputi Kementerian BUMN bidang Infrastruktur dengan komisi VI DPR RI, Jakarta, Kamis (24/11/2011), sejatinya, perseroan memiliki 14 kapal.

Namun dengan utang yang menumpuk, alhasil sembilan kapal tipe Caraka Jaya yang dimiliki oleh perseroan sebelumnya sebanyak dua kapal telah laku dilelang pengadilan Singapura, tiga kapal ditarik kreditur (PT PANN MF), dan empat kapal dalam proses lelang terkait sita eksekusi oleh pemegang MTN.

Selain itu, lima kapal Palwo Buwono memerlukan perbaikan (docking) yang membutuhkan biaya Rp32 miliar-Rp45 miliar yang saat ini sedang difasilitasi oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) dengan beberapa lembaga pembiayaan termasuk dengan PT PPA Finance.

Di sisi lain, tuntutan hukum dari para kreditur terutama dari kreditur pemegang MTN sangat membatasi kegiatan usaha PT DL. Salah satunya, tuntutan pailit dari Indover Bank yang sudah sampai tingkat kasasi sejak Februari 2011 dan sampai sekarang belum ada keputusan.

Perseroan pun mengalami over staffing, dengan komposisi karyawan darat dengan laut yang tidak optimal. Sehingga, Sumber Daya Manusia (SDM) sulit dikendalikan karena tidak ada kegiatan operasional yang sesuai dan PT DL tidak mampu untuk membayar hak-hak SDM tertunggak. Adapun utang kepada pegawai dan pensiunan mencapai Rp43,2 miliar. Namun begitu, SDM belum dapat dirumahkan karena PT DL belum mampu membayar hak-hak SDM yang tertunggak.

Sekadar informasi, PT DL mengalami kerugian sejak 2006 dengan akumulasi kerugian hingga 2010 yang diperkirakan sebesar Rp1,1 triliun. Saat ini, perseroan memiliki utang dengan total Rp3,6 triliun, yang terdiri dari Rp2,4 triliun utang Sub Loan Agreement (SLA) dan Rp1,2 triliun merupakan utang kepada lebih dari 200 kreditur dan rekanan dari dalam maupun luar negeri. (mrt)

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement