JAKARTA - Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI) diprediksi masih akan tertekan. Hal ini terjadi lantaran tambahan pasokan minyak mentah AS di luar perkiraan.
Head of Research and Analysis PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai, minyak mentah WTI tetap akan mendapat tekanan di bawah level USD88,30 per barel dengan potensi target berikutnya di kisaran USD83 per barel.
Selain itu, tekanan bearish selain karena penguatan dolar AS, juga karena naiknya data inventori minyak mentah AS. "Dengan penambahan 2,2 juta barel versus prediksi kenaikan 0,2 juta barel," ungkap dia dalam risetnya di Jakarta, Jumat (1/6/2012).
Sejalan dengan menguatnya dolar AS, harga komoditas lainnya seperti emas juga diprediksi melemah. Dia menjelaskan, pasar tengah menunggu data tenaga kerja AS Non-farm payroll (NFP) yang diproyeksikan para analis terjadi penambahan lapangan pekerjaan sebanyak 151 ribu bulan lalu, dibandingkan data bulan sebelumnya yang terjadi penambahan 115 ribu.
"Bila data non-farm nanti malam lebih rendah dari prediksi (lebih buruk), dapat menjadi dorongan harga emas untuk naik lagi karena pelemahan dolar AS akibat ekspektasi akan dikeluarkannya QE3 oleh The Fed," ungkap dia.
Sinyalemen pelemahan data tenaga kerja akan menjadi alasan bagi Federal Reserve untuk mengeluarkan kebijakan stimulus. Harga emas diperkirakan akan bergerak sideway dengan support resisten antara USD1.545-USD1.573 per troy ons. Breakout dari level-level tersebut kemungkinan akan terjadi setelah data NFP.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.