Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Data Performa Pelabuhan RI Naik Kelas

R Ghita Intan Permatasari , Jurnalis-Jum'at, 15 Juni 2012 |13:59 WIB
 Data Performa Pelabuhan RI Naik Kelas
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Bank Dunia (World Bank) telah merilis data logistic perfomance index (LPI) pada 2012. Dalam data tersebut Indonesia berhasil naik peringkat dari posisi 75 pada 2010 menjadi posisi 59 pada 2012 dengan kenaikan indeks 2,76 menjadi 2,94.

Direktur SDM dan Umum PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), Cipto Pramono, menjelaskan bahwa peningkatan ini memang belum membawa Indonesia menjadi yang terbaik di kawasan Asia Tenggara. Namun, peningkatan ini menunjukkan perbaikan yang signifikan, di saat negara-negara tetangga, kecuali Singapura, mengalami stagnasi atau penurunan peringkat.

Terlebih, indeks ini dicapai dalam kondisi belum selesainya pembangunan infrastruktur utama logistik, seperti pelabuhan-pelabuhan baru dan soft infrastructure sebagai penunjangnya.

Dia menjelaskan, kenaikan tertinggi dalam indikator tersebut terjadi di wilayah soft infrastructure yang meliputi kompetensi logistic handler dan kemampuan pemilik barang untuk mengetahui di mana barangnya berada (tracking and tracing) saat ini. Indikator kompetensi logistic handler meningkat dari 2,47 di 2010 ke 2,85 di 2012, sedangkan tracking and tracing dari 2,77 hingga 3,12.

"Hasil LPI ini tentu sejalan dengan program peningkatan produktivitas yang mulai dicanangkan di wilayah kerja Pelabuhan Indonesia II, terutama Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pintu gerbang utama pengapalan internasional," dalam siaran persnya, Jakarta, Jumat (15/6/2012).

Cipto melanjutkan, kemudahan tracking dan tracing ini akan semakin efektif saat Indonesia Logistic Community System (ILCS), sistem online hasil kerja sama Pelabuhan Indonesia II dan PT Telkom, mulai diterapkan. ILCS akan memungkinkan pemilik barang secara real time bisa mendapatkan informasi mengenai pengurusan barang miliknya. Sistem ini akan mulai diuji-coba-operasikan pada 1 Juli 2012 dan dibuat sebagai gerbang e-payment layanan logistik nasional dengan empat layanan berupa penyediaan layanan port community system, inaport net, domestic manifest, dan tracking system.

Keberadaan sistem ini tentu sebagai bagian transformasi layanan Pelabuhan Indonesia II dalam mengelola pelabuhan-pelabuhannya agar semakin mengefisiensikan sistem logistik di Indonesia. Nantinya, pemilik barang akan dapat mengetahui di mana barangnya saat ini berada, proses administrasi apa yang harus dilengkapi, dan berapa yang harus dibayar. Semuanya dapat diakses secara mudah dan transparan.

Pelabuhan Tanjung Priok juga telah menerapkan layanan berthing window bagi kapal-kapal yang akan melakukan bongkar muat. Layanan berthing window berarti tiap kapal yang mau sandar di dermaga telah mendapatkan kepastian jam dan lama sandar. Sehingga di wilayah kerja Tanjung Priok, tidak ada lagi antrean kapal yang disebabkan oleh ketidakjelasan waktu sandar. Beberapa kapal yang terlihat menunggu di sekitar pelabuhan memang disebabkan menunggunya kapal tersebut untuk bisa sandar sesuai jam yang ditentukan, atau kapal tersebut terlambat datang dan harus menunggu slot kosong berikutnya.

Dalam dua tahun ke depan, sistem ini direncakan mampu diterapkan di semua pelabuhan yang dikelola oleh Pelabuhan Indonesia II termasuk pelabuhan-pelabuhan baru yang akan dibangun. Terkait efisiensi layanan bongkar-muat ini, Bank Dunia pun mencatat kenaikan efisiensi pengapalan internasional, dari 2,82 menjadi 2,97 dengan efektivitas waktu logistik dari 3,46 ke 3,61. Bank Dunia juga memberi catatan pada kenaikan tipis indikator pelayanan bea cukai di Indonesia.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement