PLTP Sarulla Mulai Beroperasi 2016

Rabu, 20 Februari 2013 11:14 wib | Dani Jumadil Akhir - Okezone

Ilustrasi. (Foto: okezone) Ilustrasi. (Foto: okezone) JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) bersama Pertamina Geothermal Energi (PGE) telah melakukan penandatanganan Joint Opration Contract (JOC) dan Energy Sale Contract (ESC) terkait pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla.

"JOC dan ESC sudah kita tandatangani pada Selasa 12 Februari dan PGE pada Kamis 14 Februari," ujar Direktur Utama PLN Nur Pamudji, saat dihubungi wartawan, di Jakarta, Rabu (20/2/2013).

Pamudji menambahkan, untuk pembelian listriknya dari PLTP Sarulla tersebut, PLN telah menyepakatinya sejak lama, dengan harga USD6,7 sen per kilowatt hour (Kwh). "Harga itu sudah hasil dari lelang yang kita dapat sejak lama, sebelum saya jadi direksi," tambahnya.

Pamudji memperkirakan, Sarulla mulai bisa beroperasi pada 2016, dengan kapasitas awal 110 megawatt (mw) dari target 3x110 mw. Sedangkan PLTP Sarulla berkapasitas diperkirakan bisa mencapai 600 mw. "Operasi full-nya tergantung ekspansi yang dilakukan," pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, usai ditandatangainya JOC dan ESC tersebut, pihaknya masih harus menunggu persetujuan dari pihak Sarulla Operation Limited (SOL) terkait pengalihan aset Sarulla ke PGE.

Saat ini pengalihan aset tersebut masih harus menunggu pihak SOL yang akan datang dari Jepang. Selain itu, pihak SOL masih menunggu kepastian dari Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) terkait pajak pengalihan aset Sarulla tersebut.

Rida meyakini, proyek PLTP Sarulla dapat beroperasi sesuai jadwal yaitu pada 2016 mendatang. "Targetnya 2016, belum ada mundur kok. Tapi yang penting kalau semua tanda tangan berarti semua administrasi sudah terpenuhi, harus jalan," tegas Rida.

Seharusnya, PLTP Sarulla digarap oleh SOL sejak 2007 lalu. Namun, hingga sekarang belum juga terealisasi karena konsorsium Sarulla tidak bisa menjaminkan aset untuk mendapatkan pinjaman. Padahal PLTP tersebut berkapasitas 330 mw ini seharusnya sudah mulai mengalirkan "setrum" sejak tahun lalu.

Saat ini kebutuhan daya pembangkit di wilayah itu sebesar 1.480 MW. Sementara beban puncaknya mencapai 1.200 MW. Padahal pertumbuhan permintaan listrik di sana menembus angka 10 persen. PLN dan SOL telah teken perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan harga listrik USD 6,7 sen per kilowatt hour (kWh) dengan eskalasi 2 persen per tahun.

Awalnya, proyek PLTP Sarulla pada 1994 dikelola oleh Unicoal North Sumatera Geothermal. Namun, kemudian diambil alih PLN pada 2003 karena tidak ada kesepakatan harga dengan pihak Unicoal dengan membayar jaminan arbitrase sebesar USD 70 juta.

PLN kemudian melelang proyek ini dan akhirnya didapat oleh konsorsium SOL, yaitu Medco 37,5 persen, Kyushu Electric (Jepang) 25 persen, Itochu Corporation (Jepang) 25 persen, dan Ormat International Inc (AS) 12,5 persen. (ade)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA ยป